Cerita Perubahan Nia Selestin, Ketua HWDI Kota Makassar
Satunama.org – Jika seseorang bertanya kepada saya kapan hidup saya mulai berubah, jawabannya bukan ketika saya mengikuti pelatihan membatik. Perubahan itu justru dimulai ketika sebuah pesanan datang: 50 lembar batik ciprat. Pesanan itulah yang pertama kali membuat saya percaya bahwa perempuan disabilitas juga mampu menciptakan peluangnya sendiri.
Harapan yang Sulit Menjadi Nyata
Sebagai perempuan penyandang disabilitas, saya sering melihat anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Makassar memiliki semangat untuk mandiri, tetapi tidak memiliki cukup kesempatan untuk berkembang. Banyak di antara kami yang ingin bekerja dan menghasilkan pendapatan sendiri, namun terbatasnya akses pelatihan dan peluang usaha membuat harapan itu sulit diwujudkan.
Nama saya Nia Selestin. Amanah sebagai Ketua HWDI Kota Makassar membuat saya tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga masa depan perempuan-perempuan disabilitas lainnya. Sebagai perempuan penyandang disabilitas dan pengurus organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan disabilitas, saya memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas sekaligus mendorong kemandirian ekonomi anggota.

Namun, sebagian besar anggota HWDI Makassar masih tergantung pada dukungan keluarga karena belum memiliki pekerjaan yang tetap. Saya menyadari, keterbatasan akses menjadi penyebab utama bagi mereka dalam memperoleh penghasilan secara mandiri.
Di sisi lain, masyarakat memandang penyandang disabilitas merupakan kelompok yang hanya membutuhkan bantuan sosial, bukan kelompok yang mampu berkarya dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pandangan tersebut membuat perempuan disabilitas sering kali kehilangan kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Saya ingin memberdayakan anggota HWDI, tetapi saya sendiri belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengembangkan sebuah usaha. Ini menjadi tantangan terbesar saya sebagai ketua HWDI, karena belum mampu mengajak perempuan disabilitas untuk membuat karya kreatif yang memiliki nilai jual. Hambatan lain yang saya rasakan adalah minimnya akses terhadap pasar, sehingga produk yang dibuat oleh anggota hanya dapat dipasarkan di lingkungan sekitar, tentu konsumennya juga terbatas.
Di sisi lain, kapasitas saya untuk melakukan advokasi tentang perempuan disabilitas masih sangat kurang. Saya belum berani berbicara di depan banyak orang, apalagi membawa isu kesetaraan bagi perempuan disabilitas. Saya merasa benar-benar hilang harapan.
Ketika Kesempatan Itu Datang
Namun, keresahan saya mendapat jawaban saat SATUNAMA bersama YASMIB Sulawesi mengajak HWDI Kota Makassar untuk terlibat dalam sebuah program pemberdayaan. Salah satu kegiatan utamanya adalah pelatihan pembuatan Batik Ciprat, yaitu proses membatik yang memberikan ruang yang luas bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasinya, sehingga setiap karya yang dihasilkan memiliki corak dan nilai artistik yang berbeda. Melalui proses pelatihan yang bertahap, saya dan anggota HWDI Kota Makassar dilatih untuk mengenali bahan dan alat, teknik pewarnaan, proses pencipratan warna, hingga tahap penyelesaian akhir agar menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai jual.
Selain meningkatkan keterampilan produksi, saya dan anggota juga diberikan pemahaman mengenai aspek kewirausahaan dan pengembangan usaha. Saya dibekali pengetahuan tentang cara mengelola produksi, menjaga kualitas produk, menentukan harga jual, serta memasarkan hasil karya kepada masyarakat.
Namun, semua keterampilan itu tidak begitu saja menyelesaikan masalah. Saya pulang dari pelatihan dengan kepala masih berputar. Saya terus memikirkan satu hal. Kalau semua ilmu ini hanya berhenti di ruang pelatihan, apa yang sebenarnya berubah bagi kami? Saya tidak ingin pelatihan ini hanya menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Pesanan yang Mengubah Segalanya
Tak ingin berhenti di situ, saya mulai mengajak anggota untuk membuat beberapa produk batik ciprat yang bisa saya promosikan di media sosial. Saya menunggu dengan ketidakpastian. Sampai akhirnya sebuah pesanan datang. Tiba-tiba, Mas Andri, pendamping program, datang ke kantor dan menyampaikan sebuah memo dari Dinas yang memesan 50 batik ciprat produksi kami.
Awalnya, kami tidak percaya. 50 lembar! Angka yang tidak sedikit. Saya ternganga, air mata saya jatuh. Beberapa anggota yang kebetulan bersama saya saat itu, berteriak riang. Kami terharu, lalu saling berpelukan sambil menangis tersedu.
Saya terdiam beberapa saat sambil memandangi kain-kain batik yang kami buat bersama. Rasanya sulit dipercaya bahwa karya kami benar-benar ada yang memesan dalam jumlah sebanyak itu. Untuk pertama kalinya, produk buatan kami diapresiasi pihak luar. Saya berhasil, kami berhasil!
Saat itu saya sadar bahwa kami mampu menghasilkan karya yang layak. Pesanan tersebut membangkitkan semangat saya dan kawan-kawan anggota organisasi. Setidaknya melalui pesanan tersebut, saya dan anggota mulai giat membuat produk dan memasarkannya dengan percaya diri. Di situlah saya merasa penuh. Bukan karena kami menerima pesanan pertama, tetapi karena untuk pertama kalinya saya benar-benar percaya bahwa perempuan disabilitas juga mampu menciptakan peluangnya sendiri.
Bahkan, ada anggota yang awalnya menolak ikut pelatihan karena merasa tidak akan mampu menghasilkan batik. Beberapa bulan kemudian justru ia menjadi salah satu orang yang paling aktif menerima pesanan.
Sebagai ketua organisasi, saya merasa bangga melihat perubahan tersebut, karena program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan anggota, tetapi juga mengubah cara pandang mereka terhadap diri sendiri. Mereka tidak lagi melihat diri sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan dan potensi untuk mandiri secara ekonomi.
Saat itu saya mulai percaya bahwa HWDI bukan hanya organisasi, tetapi ruang bagi perempuan disabilitas untuk saling menguatkan. Bersama anggota, saya akan mengembangkan program pemberdayaan ekonomi dan melakukan advokasi untuk memperjuangkan akses yang setara bagi perempuan disabilitas dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.
Perubahan terbesar bukan karena saya bisa membatik, tetapi karena saya mulai melihat diri saya sebagai perempuan disabilitas yang mampu menciptakan peluang, bukan lagi sekadar menunggu bantuan.
Harapan Baru bagi Perempuan Disabilitas
Ke depan, saya berharap pengembangan Batik Ciprat dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak perempuan disabilitas di Kota Makassar maupun daerah lain. Saya ingin melihat Batik Ciprat tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga menjadi simbol kemandirian, kreativitas, dan penyandang disabilitas yang berdaya.
Saya berharap semakin banyak pihak yang memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha penyandang disabilitas, baik melalui pelatihan, akses pasar, kemitraan usaha, maupun kebijakan yang mendukung ekonomi inklusif. Dengan dukungan tersebut, penyandang disabilitas akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Cita-cita saya adalah menjadikan HWDI Makassar sebagai organisasi yang kuat dalam memperjuangkan hak-hak perempuan disabilitas sekaligus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang mampu melahirkan lebih banyak perempuan disabilitas yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Kini, setiap kali melihat selembar batik ciprat hasil karya anggota HWDI Makassar, saya tidak lagi melihat sekadar kain. Saya melihat keberanian yang tumbuh, harapan yang hidup, dan bukti bahwa perempuan disabilitas mampu menciptakan masa depannya sendiri.
Tentang Tokoh dalam Cerita
Naskah ini merupakan cerita perubahan (Most Significant Change) Nia Selestin, Ketua HWDI Kota Makassar, penerima manfaat Program Penguatan Kapasitas Kelompok Rentan SATUNAMA-YASMIB Sulawesi.
Kontributor tulisan: Andri Siswanto
Editor: Agustine Dwi
Foto: Andri Siswanto
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.