Tim Program SATUNAMA-WLF Lakukan Audiensi Bersama Bupati Sumba Barat Daya

Satunama.org.- Program Peningkatan Kapasitas Pemerintah Desa Untuk Pencapaian SDG’s Desa yang digagas oleh SATUNAMA-William Lily Foundation (WLF) di 5 desa di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur memasuki pelaksanaannya secara resmi pada bulan Oktober 2021. Hal tersebut diawali dengan prosesi audiensi tim program kepada Bupati Sumba Barat Daya untuk mensosialisasikan program yang akan berjalan.

Tim Lapangan Program SATUNAMA-WLF bersama lima kepala desa lama dan terpilih yang desanya menjadi wilayah program telah berdialog dengan dr. Kornelius Kodi Mete, Bupati Sumba Barat Daya pada Jumat, 8 Oktober 2021 di Kantor Bupati Sumba Barat Daya.

Tim Program mengundang Kades lama dan terpilih dengan maksud supaya ada keberlanjutan program antar kepala desa. Kehadiran para Kades penerima manfaat dalam audiensi juga dimaksudkan untuk lebih dalam memahami maksud dan tujuan program dan selanjutnya ikut berkomitmen bersama dalam pelaksanaannya.

Selaras dengan Program Bupati

SATUNAMA datang ke Sumba Barat Daya atas dukungan William Lily Foundation (WLF) untuk melaksanakan program dengan pencapaian beberapa output. “Output tahun pertama yaitu Peta Desa Berbasis drone, data desa berbasis sensus menggunakan aplikasi, lima RPJM Desa, lima RKP Desa, SOP Pengelolaan Dokumen Desa, Perdes tentang Desa Inklusi, dan pembuatan media informasi poster.” Kata Dimas Ariyanto, Koordinator Lapangan Program SATUNAMA-WLF.

Sedangkan Output tahun kedua, menurut Dimas, adalah draft Peraturan Bupati tentang SDG’s Desa, kepengurusan dan program kerja Asosiasi Pemerintah Desa Kabupaten Sumba Barat Daya, dokumentasi digital proyek, buku pandungan SDG’s dan leaflet untuk penyebarluasan informasi tentang tata Kelola pemerintah desa.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Sumba Barat Daya yang akrab disapa dokter Nelis menyampaikan bahwa program ini menjadi berkat bagi lima desa dampingan. Harapannya kelima desa tersebut dapat menjadi percontohan bagi desa yang lain. Muara akhirnya bertujuan untuk kesejahteraan warga masyarakat. “Program ini juga mengintegrasikan antara SDGs Desa dengan Tujuh Jembatan Emas, program unggulan Bupati.” Kata dr. Nelis.

Korlina Lali Lunga, Kepala Desa Tenggaba menyebutkan bahwa audiensi ini semakin memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan program yang dihelat SATUNAMA-WLF. “Program ini untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah Desa. Saya mendukung program ini.” Ujar kades perempuan yang akrab disapa Mama Desa.

Hal yang sama juga diungkapkan Kades Terpilih Desa Hameli Ate, Oktavianus yang masih berusia 30 tahun dan juga Martinus, Kepala Desa Mangganipi. “Kami di Desa Mangganipi juga sejauh ini belum memiliki data yang bisa kami gunakan untuk kemajuan desa.” Ujar Martinus.

Sementara, Kades terpilih Desa Pogo Tena, Yohanes Adolf menyebutkan bahwa desanya siap menjadi salah satu desa yang akan menjadi lokasi pelaksanaan program SATUNAMA-WLF. “Kunjungan awal dari SATUNAMA ada penjelasan terkait program, dimana nanti akan ada pendampingan penyusunan RPJM Desa. Ini kami butuhkan karena kami belum memiliki cukup pengalaman dalam penyusunan itu.” Ungkap Yohanes.

Bupati pun memiliki harapan agar desa-desa dampingan ini dapat menjadi desa model bagi desa-desa lainnya. “Jangan sampai desa-desa yang tidak didampingi justru lebih baik dari kelima desa ini.” Demikian kata Bupati.

Pelaksanaan program SATUNAMA-WLF secara resmi akan dimulai pada 21 Oktober 2021 melalui Seminar Pembaruan Desa Sumba Barat Daya : Dari SDG’s Desa Menuju Tujuh Jembatan Emas untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Sumba Barat Daya. Seminar akan dihadiri berbagai pemangku kepentingan terkait pembangunan kesejahteraan desa di Sumba Barat Daya.

Melalui program bersama WLF, SATUNAMA akan mengembangkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dalam bidang SDG’s Desa, mengembangkan berbagai modul pelatihan peningkatan kapasitas desa, serta berbagai tema pengelolaan pengetahuan yang relevan untuk desa.

SATUNAMA juga akan mengembangkan asosiasi dan kerjasama antar desa dalam satu kawasan atau satu wilayah administrasi, dan peningkatan kapasitas asosiasi dalam pembangunan desa. Serta melakukan pendampingan peningkatan kapasitas dalam implementasi dan pencapaian SDG’s untuk pembangunan desa. [Penulis : A.K. Perdana / Penyunting : Bima Sakti / Gambar : Dimas Ariyanto]

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: