Perguruan Tinggi Peka, Komunitas Siap Kerjasama

Seminar Jambore Sungai Indonesia Ke -2 di Yogyakarta
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Yogyakarta, Sabtu, 26/08/2017. Hubungan aktif setara yang menjadi prinsip kerja jejaring gerakan sungai mensyaratkan kepekaan perguruan tinggi terhadap peluang dan tantangan komunitas, dengan kepekaan itu akan terjalin komunikasi yang baik, maka komunitas akan siap bekerjasama.

Hal ini terangkum pada sesi seminar “Membangun Komitmen antar Stakeholder dalam Pengelolaan Sungai” dalam penyelenggaraan Jambore Sungai Indonesia ke -2 di Jogja National Museum.

“Yogyakarta punya 119 perguruan tinggi, dengan sumber daya sebesar itu seharusnya terkait dengan Gerakan Sungai, Yogyakarta bisa untuk Indonesia, bagaimana perguruan tinggi bisa menggerakkan mahasiswanya untuk gerakan sungai, ini harus dioptimalkan ke depan”, tegas Yanto.

Menanggapi hal itu, Agus Maryono, Dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menerangkan bahwa UGM punya program student go field dan KKN (kuliah kerja nyata –red) “Silahkan komunitas bersurat ke UGM sesuai kebutuhan, kami akan siap bekerjasama”, terang Agus.

Sementara Suyanto dari Forum Pengelolaan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Boyolali menyampaikan bahwa perguruan tinggi itu tidak hanya KKN dan penelitian saja, banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang pernah menggunakan desanya sebagai tempat pelatihan, tapi dia menyayangkan kegiatan tersebut hanya sementara, tidak ada gerakan yang berkelanjutan.

Agung Nugroho saat mengutarakan pengalamannya soal enggannya perguruan tinggi saat diajak komunitas warga untuk merancang program yang berkelanjutan. Sesi seminar nasional “Membangun Komitmen antar Stakeholder dalam Pengelolaan Sungai”, dalam Jambore Sungai Indonesia ke -2, Jogja National Museum (26/08). (Foto : Frysa)

“Di desa saya (desa sidorejo –red) mahasiswa pecinta alam sering mengadakan diklatsar (pendidikan dan pelatihan dasar –red) tapi setelah kegiatan mereka pergi, tidak peduli dengan permasalahan kerusakan ekologi, padahal mereka orang-orang yang paham dan terampil soal alam, kami sangat menyayangkan tidak ada gerakan yang berkelanjutan antara komunitas kami dengan kawan-kawan mahasiswa pecinta alam”, tegas Suyanto.

Hal yang sama disampaikan oleh Agung Nugroho, Kader Forum Pengelolaan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Boyolali, bahwa banyak UKM dari perguruan tinggi yang berkegiatan di desa-desa, tapi ketika diajak menggarap program dan kegiatan yang berkelanjutan selalu tidak jelas sikapnya.

“Banyak UKM yang berkegiatan di desa-desa, tapi kalau kita ajak mempelajari permasalahan lingkungan dan masyarakat, kita ajak nyusun program sama kegiatan jangka panjang, pasti sikapnya tidak jelas, habis kegiatan ya sudah”, terang Agung.

Menanggapi hal tersebut, Raditya Djati, Direktur Deputi Pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyarankan agar komunitas warga selalu belajar untuk menjalin kerjasama yang baik dengan semua pihak, mengomunikasikan kebutuhan warga, duduk bersama untuk merancang program dan kegiatan bersama.

“Komunitas warga harus mulai membangun hubungan aktif setara dengan semua pihak, undang siapapun untuk dialog, bekerjasama, komunikasikan kebutuhan dan tantangan warga, ajak lebih banyak pihak untuk menyusun program bersama, agar terus meningkat kapasitas tanggap bencana kita”, ungkap Djati. (Prabu Ayunda Sora/SATUNAMA. Foto : Frysa/Fisipol UGM)

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 30 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*