Penting, Analisis Gender di Masyarakat

CEFIL 2017
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Memperkuat feminin dan maskulin dalam peran sosial merupakan konstruksi sosial yang dibangun masyarakat. Padahal sesungguhnya perempuan dan laki-laki bisa berperan apapun dalam berbagai bangunan budaya. Di Jakarta, sopir bisa dilakukan oleh perempuan. Di Bali, beberapa perempuan berprofesi menjadi kuli. Gambaran di atas menjadi awalan diskusi serta transfer ilmu dan pengetahuan terkait gender di hari ketiga Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) Basic 2017.

Pemahaman tentang gender dan seluk beluknya penting diberikan kepada peserta CEFIL agar mereka memiliki perspektif dan keberpihakan pada keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Karena pemahaman soal peran perempuan dan laki-laki sangat mungkin sudah terbentuk sejak awal dalam keluarga.

“Ada istilah segregasi. Privat dan publik. Keluarga awal saling kawin mawin, mulai ada pembagian tugas. Kemudian ada pengalihkuasaan dari perempuan ke laki-laki. Patriarki sendiri ada di berbagai ranah seperti keluarga, budaya, upah dan agama.” Demikian Makrus Ali, fasilitator analisa gender dari SATUNAMA.

Makrus juga menyebutkan bahwa gender bukanlah sesuatu yang kodrati. Gender sebagai jenis kelamin sosial merupakan konstruksi masyarakat. “Kodrat yang melekat pada perempuan salah satunya seperti melahirkan dan menyusui. Yang biologis itu yang disebut jenis kelamin. Ini perbedaan antara seks dan gender.” Lanjut Makrus.

Analisis gender saat ini menjadi salah satu perangkat untuk mempertajam analisis sosial guna mengetahui dan menerapkan keadilan di dalam masyarakat. “Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis gender adalah akses, peran dan partisipasi, kontrol, manfaat, indikator, kegiatan produktif, kegiatan reproduksi dan kegiatan masyarakat. Elemen-elemen ini diperlukan untuk mengawali proses, memantau perkembangan sampai melihat hasilnya.” Ujar Makrus.

Sementara untuk melakukan analisis gender, seseorang harus paham akan langkah-langkahnya. Di tahap awal, yang musti dilakukan adalah pengumpulan atau penghimpunan problem-problem kesenjangan gender yang terjadi. Setelahnya, dilakukan analisis untuk  mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender tersebut. Biasanya itu erjadi karena adanya diskriminasi gender antara kondisi normatif dengan objektif.

Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi kesenjangan gender dari aspek akses, peran, kontrol, manfaat dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi langkah-langkah intervensi atau tindakan yang diperlukan berupa kebijakan atau program serta rencana kegiatan.

“Catatan penting dalam implementasinya adalah bahwa analisis gender dilakukan dalam konteks melakukan dekonstruksi budaya yang bias gender. Meninggalkan parameter bias laki-laki. Meletakkan perempuan sebagai subyek yang otonom. Partisipatif.” Tambah Makrus Ali, yang merupakan pekarya Desk Perempuan dan Politik, Departemen Politik dan Demokrasi SATUNAMA.

Para peserta kemudian merefleksikan hasil temuan mereka saat melakukan analisa sosial di hari pertama pelatihan dengan menggunakan analisa gender. “Berdasarkan hasil temuan kemarin, kita menemukan ada pembagian tugas yang berbeda laki-laki dan perempuan dalam mengolah pertanian. Proses menanam dilakukan perempuan, membajak dilakukan laki-laki. Upah 50 ribu per hari untuk perempuan dan laki-laki. Tapi laki-laki ada tambahan uang rokok. Sementara perempuan tidak diberikan uang untuk kebutuhan dapur.” papar Shinta, peserta pelatihan.

Kesenjangan gender memang menjadi sesuatu yang harus dicari solusinya. Dalam analisis sosial, hal ini menjadi salah satu elemen data yang diperlukan “Kita memang harus menemukan kesenjangan gendernya di mana, kemudian temukan juga partisipasi publiknya.” tutup Makrus.

Diharapkan dari transfer dan diskusi pengetahuan soal gender ini, para peserta CEFIL Basic 2017 dapat mengimplementasikannya dalam peran dan kerja mereka sebagai kontribusi dalam gerakan sosial untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih adil dan demokratis di masa depan.

CEFIL sendiri merupakan kiprah kontributif SATUNAMA dalam komitmennya untuk memperkuat Civic Movement pada arena masyarakat sipil melalui Civic Education. CEFIL adalah bagian penting dalam sejarah panjang SATUNAMA yang telah dimulai sejak 1998 dengan para alumni yang tersebar di seluruh Indonesia serta berkomitmen pada nilai-nilai demokrasi. Mereka memiliki peran dalam civil society dan tidak sedikit pula yang bergeser ke political society. (A.K.Perdana/Foto : Banu Badrika)

(Visited 22 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*