satunamasatunamasatunama

Sekolah Politisi Muda II SATUNAMA

Politisi Jangan Hanya Berhenti di Rumusan Visi

Sesi Abdul Gaffar
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Visi besar setiap politisi menjadi hal terpenting dalam Kepemimpinan Starategis, bukan mentok hanya pada rumusan visi tersebut.

Demikian dilontarkan oleh Abdul Gaffar dari Universitas Gadjah Mada, salah satu narasumber dalam Sekolah Politisi Muda  Civilizing Politic For Indonesia Democracy (CPID) SATUNAMA Angkatan ke-2, Hari Jumat (20/5) di Yayasan SATUNAMA Yogyakarta.

Abdul Gaffar menekankan setiap politisi harus memiliki visi besar dalam dirinya, bukan hanya rumusan visi verbal apalagi visi yang dirumuskan oleh konsultan lain. Dalam mencapai tujuan besar (visi) maka harus dapat berkompromi dengan tujuan-tujuan kecil lainnya.

“Setiap politisi juga perlu memperhitungkan permasalahan-permasalahan yang mungkin akan muncul. Dengan begitu perlu adanya sikap fleksibilitas dalam diri seorang politisi.” Ucap Abdul Gaffar sembari menyebutkan kutipan bahwa “Orang Sukses memiliki kegagalan lebih banyak daripada Orang Gagal” sebagai ilustrasi untuk menggambarkan fleksibilitas yang dipunyai oleh kebanyakan tokoh-tokoh besar atau sukses.

Kaitannya dengan pihak eksternal, setiap politisi hendaknya juga melihat aspek di luar dirinya dengan harus dapat memahami kepentingan pihak lain. “Tidak hanya sampai dapat memahami, namun juga hingga dapat memberdayakan. Sehingga dengan saling memberdayakan, tujuan bersama dapat dicapai. Karena dalam Kepemimpinan Strategis Politik, prinsip utamanya adalah untuk mencapai tujuan bersama.” Tegasnya lagi.

Sedangkan kaitannya dengan demokrasi, Kepemimpinan Strategis dalam demokrasi mencakup beberapa poin penting, yaitu menguatkan demokrasi melalui capaian elektoral, fleksibel dalam target elektoral namun tetap konsisten mencapai tujuan besar, kerjasama dengan aktor demokrasi lain untuk saling menguatkan dan menemukan tujuan besar bersama yang menjadi tujuan parsial setiap politisi.

“Dengan begitu kerjasama antar politisi menjadi kunci utama dalam Kepemimpinan Strategis dalam berpolitik.” Demikian Abdul.

Abdul Gaffar kemudian menutup sesi dengan pembahasan posisi masyarakat dalam Kepemimpinan Strategis. Dalam urusan memenangkan pemilu, posisi masyarakat adalah sebagai pemilih. Politisi yang elektabel adalah yang berdasarkan suara yang terkumpul dari masyarakat. Sedangkan dalam urusan memenangkan demokrasi, posisi masyarakat sebagai demos, kontrol kebijakan, dalam ranah ini dikaitkan dengan politisi yang aspiratif. []

Penulis : Bima Sakti
Editor : Ariwan K Perdana

(Visited 125 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*