satunamasatunamasatunama

Sarasehan HUT ke-18 SATUNAMA

Perubahan Iklim dan Tantangan Pemberdayaan Masyarakat Masa Depan.

IMG_7365 (Medium)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

SATUNAMA- Indonesia termasuk yang diramalkan buntung, bukan beruntung. Ungkapan itu disampaikan oleh Jalal, reader Thamrin School of Climate Change and Sustainibility, pada sarasehan HUT ke-18 SATUNAMA yang digelar Selasa (5/4). “Kita yang panas dan tambah panas, akan turun produktivitasnya hingga 15%,” ujar Jalal ketika berbicara mengenai perubahan iklim. Pergeseran musim sudah merubah pranata mangsa yang ada di masyarakat, dan itu berpengaruh terhadap pemberdayaan masyarakat.

Dari sisi kesehatan, pemanasan global berakibat pada serangan jantung. Hal ini merupakan ancaman yang serius. Namun Indonesia tidak memiliki rencana untuk menghadapai tantangan perubahan iklim. Publikasi WHO, menunjukkan pergeseran masalah kesehatan. “Kita yang berada di pembedayaan masyarakat sadar saja belum,” kata Jalal.

IMG_7322 (Medium)

Para undangan menyimak paparan dari narasumber dalam sarasehan HUT ke-18 SATUNAMA [Foto: Mediya Juniandari/Radio SATUNAMA]

Malaria bergeser menjauhi ekuator 25 kaki perhari. Namun hal ini belum kita sadari benar. “Kalau mau dunia ini sehat maka yang harus ditangani adalah perubahan iklim.,” ungkap Jalal. Perubahan iklim yang ditandai dengan naiknya temperatur, cuaca ekstrim, dan meningkatnya muka air laut berdampak pada gagal jantung hingga malnutrisi.

“Maka mari bersatulah pekerja kesehatan dan aktivis lingkungan. Perusahaan-perusahaan ini yang tidak mempertimbangkan aset-aset masyarakat yang akhirnya berakibat pada perubahan tata lingkungan. Peta aset di dalam masyarakat itu ada individual, orang muda, income berapa besar, talent dan skil, asosiasi di masyarakat, apa yang mereka punya. Aset dibuat berdasarkan jenis kapitalnya. Hal ini menunjukkan mana kapital yang perlu diintervensi. “Ini cara pikir yang harus didisplinkan untuk dipakai,” tambahnya.

Tantangan paling besar adalah inkonsistensi paradigma pembangunan berkelanjutan. Seharusnya tiap kabupaten dan kota punya roadmap. Berbagai konsep sudah ada beberapa di tingkat nasional, namun perlu disinkronkan. “CSR menjadi landasan bermitra dalam pemberdayaan masyarakat. Tapi tantangannya adalah perusahaan sengaja memakai istilah CSR untuk menutupi boroknya. umumnya di industri kontroversial,” katanya.

“Teman-teman yang bekerja di pemberdayaan masyarakat benar-benar harus ngajak pemerintah dan swasta agar paham soal pemberdayaan. Minimal tidak menambah kemiskinan. Masalah terbesar adalah ketidakpahaman mereka tentang masyarakat, tapi hal yang lain adalah memang mereka jahat,” lanjut Jalal.

Jalan keluarnya adalah kemitraan. Pemberdayaan masyarakat membutuhkan peta aset. Peta aset warga harus dipetakan, aset NGO yang bekerja di masyarakat harus dipetakan, demikian juga perusahaan dan pemerintah yang terlibat di dalamnya. “Kesimpulannya, saya punya keyakinan, banyak kerja pemberdayaan dan refleksi sustainability hari ini sangat mengemuka. Kedua, tantangan perubahan iklim yang besar, kemitraan lintas sektor harus terjadi, dengan paradigma pembangunan yang berkelanjutan dengan paradigma yang sama.” tutur Jalal.

Sarasehan yang bertajuk Pemberdayaan Masyarakat Menanggapi Kemendesakan Agenda-agenda Global: Refleksi Perjalanan dan Tugas Masa Depan, menjadi salah satu bagian dari proses perencanaan SATUNAMA 2037. []

Penulis : Ryan Sugiarto
Editor : Ariwan K Perdana

(Visited 143 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*