satunamasatunamasatunama

Pelatihan Project Officer KISKM-SATUNAMA

Mempertajam Kecakapan Pengelolaan Program dan Advokasi

DSC_0278 (Medium)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Yayasan SATUNAMA mengadakan pelatihan Penguatan Kapasitas (Capacity Building) bagi para Project Officer (PO) dan Community Organizer (CO) dalam program Keadilan dan Inklusi Sosial bagi Kelompok Marginal (KISKM) selama 3 hari sejak Rabu (16/3) hingga Jumat (18/3) di Wisma dan Balai Latihan SATUNAMA, Duwet, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pelatihan ini diikuti oleh 12 orang Project Officer dan Community Organizer dari 6 lembaga mitra SATUNAMA yang bekerja dalam program KISKM. Keenam lembaga mitra tersebut adalah LKiS (Yogyakarta),  eLSA (Semarang), Yasalti (Sumba Timur-NTT), Donders (Sumba Barat Daya-NTT), ASB (Sumatra Utara) dan Somasi (Nusa Tenggara Barat).

Berbagai pilah materi diberikan dalam pelatihan ini sebagai upaya untuk menguatkan skill dan kapasitas para staff PO dan CO mitra dalam menjalankan perannya sebagai ujung tombak kerja mitra pelaksana di masing-masing wilayahnya yang berhubungan langsung dengan kelompok penerima manfaat dalam program ini.

DSC_0297 (Medium)

Peserta nampak serius mendengarkan materi yang diberikan oleh narasumber dalam Pelatihan PO dan CO Program KISKM-SATUNAMA. Project Officer (PO) dan Community Organizer (CO) diharapkan mampu membekali dirinya dengan pemahaman tentang management proyek yang mumpuni, kemampuan komunikasi yang baik dan strategi advokasi yang mengena. [Foto: Ariwan/SATUNAMA]

Pelatihan ini berkonsentrasi pada tiga elemen penting dalam program. Pertama, manajemen proyek. Materi ini membahas siklus proyek secara utuh, mulai dari perencanaan, implementasi, monitoring, hingga evaluasi. Kedua, strategi advokasi secara vertikal. Termasuk dalam elemen ini misalnya tentang communication skill (menulis di media, advokasi melalui opini di media massa, penulisan proposal, relasi media, lobby dan negosiasi dengan SKPD atau Pemdes. Ketiga, strategi advokasi horisontal yang berisi teknik pemberdayaan komunitas, penguatan kelembagaan, teknik menemukan kader lokal (champion), analisis gender dan etnografi.

“Untuk sampai pada level-level tersebut tentu butuh kecakapan dan kemampuan, maka pelatihan ini bisa dipakai sebagai wahananya.” ujar Izzul Albab, koordinator pelatihan.

SATUNAMA telah bergerak dengan program KiSKM sejak 2014 dengan fokus penerima manfaat komunitas penghayat agama dan kepercayaaan lokal serta masyarakat adat. Program ini bernaung dibawah payung Program Peduli yang dikelola oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejumlah komunitas penghayat kepercayaan lokal dan komunitas masyarakat adat telah didampingi dalam program KISKM. Mereka adalah Parmalim dan Ugamo Bangso Batak di Sumatra Utara, Sapta Darma dan Sedulur Sikep di Jawa Tengah, Persatuan Eklasing Budi Murka di Yogyakarta, Komunitas Adat Bayan di Lombok Utara-NTB serta komunitas Marapu di Sumba-NTT.

Melalui kerjasama dengan mitra pelaksana di masing-masing wilayah tersebut, SATUNAMA mengadakan berbagai upaya pemenuhan hak-hak warga negara bagi kelompok penerima manfaat, dengan berpatokan pada jangkar inklusi sosial dalam tiga elemen pemenuhan hak, yaitu penerimaan sosial, pengadaan atau perbaikan akses layanan dan kebijakan pemerintah yang mengakomodir pemenuhan hak-hak bagi kelompok-kelompok tersebut.[]

Penulis : Ariwan K Perdana

Baca juga : Edisi Tematik Inklusi Sosial Bagi Penghayat kepercayaan di Indonesia.

(Visited 96 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*