satunamasatunamasatunama

Opini

Ketika Lahan Semakin Tidak Produktif

15966143713_0c660e16d6_b
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Oleh : Eugenia Krisnadya
Volunteer di Yayasan SATUNAMA

Kemarin paman datang.. pamanku dari desa..
dibawakannya rambutan, pisang, dan sayur mayur segala rupa..

Masih ingat lirik lagu kanak-kanak ciptaan AT. Mahmud? Lagu Paman Datang yang dinyanyikan oleh Tasya mengingatkan kita akan betapa kaya potensi alam desa. Namun, banyak manusia masa kini menganggap kota sebagai tempat yang paling hebat. Desa tidak ada apa-apanya dibanding kota. Dengan pemikiran seperti ini, manusia-manusia ‘merusak’ desa, berusaha menjadikan desa sebagai kota.

Taraf hidup masyarakat desa yang mayoritas petani masih dikategorikan miskin, terbelakang, dan dianggap tidak bisa menjamin kesejahteraan. Hingar-bingar kehidupan kota membuat warga desa iri. Upaya mengkotakan desa pun di-iya-kan masyarakat desa. Lahan pertanian dijual untuk perumahan, dan untuk lahan pendirian pabrik. Kepolosan dan keluguan masyarakat desa dimanfaatkan. Uang berjuta-juta ditawarkan, dengan segala janji manis, warga desa tergiur dan tuan pemilik tanah pun berganti.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan struktur perekonomian, kebutuhan lahan non pertanian cenderung terus meningkat. Kecenderungan ini menyebabkan lahan pertanian akan diubah fungsinya, atau dalam kata lain alih fungsi lahan. Lahan pertanian yang tadinya produktif memproduksi padi, berganti fungsi menjadi area pabrik.

Lahan pertanian yang tadinya produktif memproduksi padi, berganti fungsi menjadi area pabrik.

Menyoroti pendirian pabrik di kawasan pedesaan. Sawah-sawah produktif yang tadinya jadi lahan mata pencaharian berganti menjadi pabrik. Para pemilik tanah yang tadinya bisa hidup dari hasil pertanian mau tak mau harus mencari pekerjaan lain. Ada fenomena miris yang tadinya menggarap lahan sendiri, karena lahannya dijual, akhirnya kemudian menjadi buruh tani. Bisa dibilang turun derajat.

Memang sangat menggoda menjual lahan, harga yang ditawarkan cukup besar. Namun apa gunanya uang ratusan juta, jika tidak ada penghasilan lain, sedangkan inflasi terus berjalan, kebutuhan pun selalu ada. Lama-lama habis juga. Sedangkan jika terus menggarap lahan, akan ada pemasukan berkala, walaupun sedikit namun ada terus.

Kemandirian memudar

Ketika lahan pertanian berubah menjadi kawasan pabrik, petani akan kehilangan mata pencahariannya. Untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, akan ada perubahan mata pencaharian, dari petani kemudian menjadi buruh pabrik. Dalam kasus ini, bisa dibilang tingkat kemandirian seseorang akan menurun drastis. Dulu memproduksi, mendistribusi, dan melakukan pemasaran produk pertaniannya sendiri. Sekarang menjadi buruh pabrik, kasarnya dibayar orang lain.

Kehilangan lahan pertanian juga akan menghilangkan proses pewarisan kearifan lokal. Salah satunya kearifan lokal bertani, proses bertani mulai dari menanam, merawat dan memanen biasanya diturunkan dari generasi ke generasi. Jika lahan pertanian menghilang, kemudian ada pergantian mata pencaharian, kearifan lokal bertani yang diturunkan dari generasi ke generasi tidak akan ada gunanya lagi, sehingga lama-kelamaan bisa menghilang.

Kearifan lokal bertani yang diturunkan dari generasi ke generasi lama-kelamaan bisa menghilang.

Pendirian pabrik juga menimbulkan perubahan sikap warga. Petani sangat menghargai sesama petani. Jika petani lain membutuhkan bantuannya, mereka membantu tanpa memikirkan uang sedikit pun, mereka saling membantu, tanpa memikirkan materi tanpa berpikir betapa lelahnya mereka. Karena dalam bertani harus ada komunikasi dan kerjasama. Contohnya dalam mengairi sawah. Harus ada komunikasi antar petani, juga harus memikirkan petani lain, sehingga semua sawah mendapat bagian air. Berbeda dengan buruh, yang tanpa sadar selalu menghitung tenaga yang dikeluarkan dalam hitungan jam, bahkan detik pun mereka hitung. Buruh pun cenderung berkerja secara mandiri. Jadi kedekatan antar petani tentu lebih erat dibanding buruh.

Mengkotakan desa akan menghilangkan lahan pertanian dan mengancam diri kita sendiri. Selama ini kita makan hasil bumi. Hasil pertanian. Kita makan dari hasil kerja keras petani di lahan pertanian. Lalu jika lahan pertanian dialih-fungsikan menjadi pabrik, darimana kita akan mendapat makanan?

Desa yang jauh dari hingar-bingar dan polusi lama-lama akan menjadi sama dengan kota. Deru suara dari pabrik juga limbah-limbah pabrik akan sangat mengganggu. Udara akan tercemar polusi udara dari pabrik. Air sungai mulai rusak, tercampur dengan limbah dari pabrik. Selain udara dan air yang terpolusi, tanah juga akan kena imbasnya. Kesuburan tanah di sekitar pabrik tentu menurun. Lahan pertanian yang tersisa tentu tidak bisa seproduktif dulu.

Kondisi hilangnya desa tempat strategis lahan pertanian tentu bisa mengancam ketahanan pangan negara kita. Pemerintah harusnya lebih tegas mengatur penggunaan lahan. Langkah lainnya tentu saja sosialisasi ke masyarakat mengenai pentingnya lahan pertanian yang sangat berkaitan dengan keberlanjutan kebutuhan pangan penduduk. Selain itu perlindungan lahan dari pemerintah akan mencegah menghilangnya tanah pertanian.

Head Photo : Tempo.co

(Visited 109 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*