satunamasatunamasatunama

Lokalatih Jurnalisme Empatik OMS

Melihat Fakta dengan Perspektif Empatik

Ashadi Siregar - Jurnalisme Empatik
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Satunama.org – “Jurnalisme empati menggunakan perspektif, karena yang namanya fakta itu selalu sama untuk sebuah peristiwa”. Hal ini diungkapkan oleh Ashadi Siregar, pengajar Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dalam acara Lokalatih Jurnalisme Empatik bagi Media-Media Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Balai Latihan SATUNAMA Yogyakarta, Selasa (29/9) lalu.

Ashadi Siregar yang menjadi salah satu narasumber dalam lokalatih juga menjelaskan bahwa selain fakta yang kerap menjadi topik utama pemberitaan, dibutuhkan juga perspektif atau sudut pandang lain untuk melihat sebuah peristiwa.

“Misalnya ada seseorang yang mengutil di sebuah toko. Pelaku mengambil produk susu di toko. Itu fakta. Kalau diseret ke arah legalitas, maka bunyinya adalah pelaku mencuri di sebuah toko. Sementara si pelaku itu dia punya anak balita, tinggal di pelosok desa di sebuah gubuk. Secara ekonomi dia kesulitan. Nah, hal ini tidak masuk dalam aspek legalitas. Kemudian ada wartawan yang bergerak ke desa si pelaku dan menuliskan fakta yang dia lihat di sana. Maka orang akan melihatnya dari perspektif yang berbeda.” Terang Ashadi.

Lebih jauh Ashadi juga menjelaskan bahwa perspektif –utamanya perspektif keadilan- adalah faktor penting dalam pemberitaan. Sayangnya hal ini yang kerap kurang terakomodir dalam gaya pemberitaan pers saat ini. “Masalahnya, pada setiap institusi pers ada kepentingan ekonomi dan politik yang menekan mereka. Kekuatan bisnis menekan, bisnis digerakkan oleh modal yang selalu harus berkembang. Politik juga menekan dengan powernya. Pers terlihat independen, tapi independen itu perjuangan yang harus diperjuangkan oleh setiap individunya. Namun secara institusional dia terikat.”

Ashadi juga menekankan bahwa peran OMS dalam menyampaikan informasi yang dimilikinya menjadi penting dalam kondisi semacam ini. “LSM perlu mengandalkan medianya sendiri. Di prinsip inilah faktor empati harus ada. Masuk ke dunia pihak yang powerless dan voiceless, pihak yang lemah dan tak terdengar suaranya, agar suara dari pihak itu dimunculkan dalam teks informasi.”

“Jurnalis jika menjadi pekerja dalam manajemen, dia akan terikat dengan fungsi produksi institusi dan memunculkan komoditas. Jika dia menjadi pelaku dalam profesi, dia akan terlibat dalam fungsi sosial yang membuahkan informasi. Di wilayah kedua inilah media OMS bisa berperan.” Tutup Ashadi.

Penulis: Ariwan K. Perdana
Editor: Bima Sakti

(Visited 89 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*