satunamasatunamasatunama

Reportase Diskusi Beranda Perempuan #3

Belajar Dari Sosok SK Trimurti

foto
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Soerastri Karma Trimurti merupakan pejuang perempuan Indonesia. Ia juga sebagai seorang aktivis perempuan yang memikirkan konsep negara, dan ia juga tidak segan-segan mengkritik Soekarno, demikian disampaikan oleh Dewi Chandraningrum, aktivis perempuan yang juga sebagai pimpinan redaksi Jurnal Perempuan, sebagai narasumber Diskusi Beranda Perempuan kerjasama SATUNAMA dan AJI Yogyakarta, yang bertema “SK Trimurti dan Jurnalisme Masa Kini” Senin (31/08/15) di aula Student Center UNY.

Dalam diskusi tersebut, Dewi menjadi narasumber bersama dengan Shinta Maharani (Koordinator Divisi Gender Aji Yogyakarta dan junalis Tempo) dan Winna Wijayanti (LPM Ekspresi). Diskusi dimoderatori oleh Any Sundari dari Yayasan SATUNAMA.

Dewi juga menyatakan bahwa perempuan harus berpolitik seperti yang dilakukan oleh SK Trimurti. SK Trimurti adalah seorang propragandis. Dia menyebarkan leaflet-leafletnya dianggap berbahaya oleh penjajah. Ia keluar masuk penjara bahkan tatkala ia tengah mengandung. Ia pun menduduki posisi penting didalam pemerintahan yakni sebagai menteri Perburuhan pada masa Soekarno. Akan tetapi ia pun juga mengecam Soekarno atas tindakan poligami yang dilakukannya.

Kalau perempuan tidak berpolitik, menurutnya akan berbahaya. “Bagaimana laki-laki yang berpolitik tahu soal perempuan? Maka ini sangat berbahaya, salah satu untuk menangani adalah perempuan juga harus ada yang terjun dalam dunia politik”, ungkap Dewi yang juga seorang pelukis.

Dalam konteks kekinian, seringkali perempuan juga diserang seksualitasnya saat ia aktif dalam kegiatan politik. Banyak sekali aktivis atau perempuan pemberani yang terjun ke dunia politik dijatuhkan nama baiknya karena serangan atas seksualitasnya sebagai perempuan. Lihat saja, ketika ia tampil menonjol, perempuan akan diserang seksualitasnya, Tak jarang untuk menutupi kasus-kasus besar di negeri ini, menurut Dewi seringkali seksualitas perempuan dijadikan tameng. “Fitnah-fitnah atas seksualitas dari zaman ke zaman itu masih tetap ada sampai sekarang. Untuk menutupi kasus korupsi misalnya, maka seksualitas biasanya dijadikan isu untuk menutupi kasus korupsi”, tambahnya.

image_1

Pentingnya isu gender dalam pemberitaan media mengemuka dalam diskusi Beranda Perempuan #3 [Foto: Nur Sholikin/SATUNAMA]

Sementara Shinta Maharani mencoba mengeksplorasi tantangan jurnalisme masa kini. Belajar dari SK Trimurti yang menggunakan mimbar jurnalisme untuk perjuangannya, tantangan perempuan di dunia utamanya di dunia media amat besar. Bias gender dan diskriminasi seperti tak henti-henti menghampiri perempuan dalam pemberitaan. Ia sebagai bagian dari AJI Yogyakarta pernah  melakukan pengamatan berita-berita selama satu bulan tentang berita yang sensitif gender di Yogyalarta.

Ada 15 temuan berita yang bias gender. Ini sangat disayangkan, karena dalam ruang redaksi banyak orang dan banyak kepala, jelasnya. Shinta juga menyoroti berita yang lagi aktual dan itu sensitif pada gender. Ia mencontohkan berita dengan judul “Go-Ojek wanita Cantik di Media Sosial” yang diberitakan oleh media online tempo tempat ia bekerja. Ia mempertanyakan, kenapa cantik yang menjadi framing media.

“Ada pula berita ‘7 Wanita Cantik Ternyata Doyan Narkoba’ kenapa harus kata cantik yang diperlihatkan, kok tidak wanita jelek,” jelas Shinta. Oleh karenanya, Shinta menganggap bahwa isu gender penting untuk dituliskan. “Karena kita menulis hak kaum perempuan yang tidak bisa bersuara lewat tulisan,” tandasnya.

Dalam sesi diskusi muncul beberapa pertanyaan dari para peserta. Salah satu peserta mempertanyakan bagaimana cara untuk mengurangi bias pemberitaan di media, agar kata-kata tak sensitif gender tak muncul dalam pemberitaan. Dewi, menanggapi, bahwa kata-kata tidak ada dosa asal muasal. “Terserah apa katanya, entah itu perempuan ataupun wanita (yang diperdebatkan di media-red.) ataupun janda, bagaimana caranya bisa berkompromi, judulnya dibikin bombastis, tapi isinya memperjuangkan hak-hak perempuan,” jelas Dewi. “Karena saat ini banyak media yang mementingkan rating daripada kualitas berita,” tandasnya.

Peserta lain juga bertanya tentang apa yang dilakukan oleh SK Trimurti pada masa Orba. Dewi pun menjawab bahwa SK Trimurti tidak pernah berhenti berpolitik. “Ia hidup bersahaja dan melakukan tindakan melawan Soeharto dengan menandatangi Petisi 50 pada masa itu.” kata Dewi.

Penulis: Nur Sholikin
Editor : Ariwan K. Perdana

Unduhan materi diskusi:
Tentang SK Trimurti
Pengamatan Divisi Gender AJI Yogyakarta
Gender dan Kesetaraan
Menulis Isu Gender

(Visited 85 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*