satunamasatunamasatunama

Kisah

Catatan Pinggir Tentang Anak-anak Asmat

33. Mata Mutiara I
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik. Pernyataan itu senada dengan isi konvensi hak anak (KHA) yang diratifikasi bangsa Indonesia lebih dari seperempat abad lalu di mana anak harus mendapatkan apa yang terbaik untuk mereka. Dalam keadaan apa pun di mana pun dan siapa pun, mereka berhak mendapatkan yang terbaik tanpa pengecualian.

Lalu bagaimana dengan Papua? Lebih khusus lagi Asmat, kabupaten yang biasa dikenal dengan kota lumpur atau kota papan. Bulan ini menjadi moment baik untuk kembali membuka ingatan dan hati. Sudahkah kebijakan yang ada telah berpihak pada kepentingan terbaik untuk anak? Permintaan untuk menulis tentang anak-anak Asmat membuatku membuka kembali catatan-catatanku. Tulisan yang pernah kubuat itu sangat spontan. Tidak sedang dalam rangka melakukan penelitian atau dimaksudkan untuk dimuat di media massa tertentu.

Datang, merasakan dan hidup bersama orang-orang Asmat membuatku belajar banyak hal. Agaknya bukan orang-orang Asmat yang belajar dari orang-orang pendatang tapi sebaliknya. Asmat dengan segala keunikannya tidak mudah jika hanya dirangkai dengan kata-kata. Keterbatasan tulisanku yang mungkin tidak bisa menggambarkan secara dalam tentang suku Asmat rasanya kurang pas untuk disebarluaskan. Aku hanya berharap catatan-catatan pinggiran yang pernah ada bisa membuka sedikit hal-hal tentang Asmat dari sisi lain.

Kubuka lagi beberapa catatan waktu lalu. Meski itu sudah terjadi beberapa tahun lalu bukan berarti ada lompatan perubahan di Asmat yang orang bilang ‘wow’. Berawal dari tahun paling dekat di tahun ini. Catatan ini kubuat ketika hidup bersama dengan orang-orang Asmat di kampung Yepem. Kampung ini lumayan dekat dengan pusat kota Kabupaten Asmat, jika beruntung masih ada sisa sinyal yang menempel di HP. Perjalanan dari Agats (ibukota Kabupaten) ke Yepem membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

7 Agustus 2014

Ada keasyikan tersendiri ketika menyapa adik-adik berseragam merah putih berangkat sekolah. Lucu saja melihat dorang masih mau belajar di bangku itu. Sederhana sapaan itu ‘selamat pagi adik-adik, selamat sekolah ya’. Entah berapa kali aku berkata-kata kayak gitu di depan gereja. Ada yang pakai seragam merah putih ada juga yang masih pakai baju kemarin, ada yang bersepatu ada juga yang tidak, ada yang membawa tas ada pula yang cukup membawa buku tulis dan pulpen satu biji. Sapaan berkali-kali itu akhirnya ditambahi oleh temanku yang juga berdiri di depan gereja (menunggu mace-mace dan pace-pace ikut pertemuan) “semoga ada guru di sekolah”. Nyengir aku mendengarnya, iya betul semoga ada guru datang mengajar. Kemarin dorang pulang tempo karena guru menghilang seolah-olah ditelan bumi, tanpa pamit atau alasan yang jelas.

Jam menununjukan pukul 08.30 yang artinya pertemuan kampung telah dimulai. Teman timku membuka acara dan belajar kelompok pun dimulai. Belum 5 menit berlalu dari acara pembuka itu, terdengar suara ribut-ribut di jalan. Aku terpancing keluar dan spontan membawa kamera. Sudah kuduga apa yang terjadi. Benar saja, anak-anak sekolah yang tadi pagi berbondong-bondong itu kini pulang ke rumah. Kuambil foto dorang dari jarak jauh, hemmmm…sempat-sempatnya action bocah-bocah itu. Apa boleh buat karena sudah ketahuan, aku pun berjalan mendekat sambil meneriaki mereka ‘sudah berdiri disitu saja, semua kumpul’. Senang sekali bocah-bocah itu difoto meskipun tidak pernah tahu hasilnya. Beberapa kali kuambil gambarnya lalu membubarkan dengan hormat rombongan narsis itu dan bertanya ‘kenapa pulang tempo, ini masih pagi’ kompak mereka menjawab “Trada guru datang”. “Baiklah nak, pulanglah karena hari ini masih sama dengan hari kemarin guru tidak mau mengajar meski gaji masuk rekening setiap bulan secara rutin” aku membatin. Maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menjadikan pengalaman ini sebagai coretanku.

Catatan selanjutnya pengalaman dikampung Sa Er. Tulisan yang muncul spontan karena melihat ulah unik anak-anak Asmat. Kampung ini adalah kampung di pedalaman yang pertama kali aku datangi. Membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan air. Kampung Sa dan Kampung Er dulunya satu kampung. Karena berbagai kepentingan maka kampung ini berkembang menjadi dua. Kali dan jembatan menjadi penghubung dua kampung ini.

19 November 2013.

Merah putih untuk SD, warna biru untuk SMP dan abu-abu seragam SMA. Warna ini sudah ada sejak dahulu kala, setidaknya sejak aku lahir warna-warna itu sudah menempel di tubuh anak-anak sekolah. Warna-warna itu semakin banyak ditemui di segala penjuru tanah air takala bangsa ini mencanangkan wajib belajar 9 tahun di mana angka sembilan dirasa masih kurang sehingga diganti menjadi 12.

Sependek pengetahuanku, sekolah itu ya berseragam, memakai sepatu, mengendong tas. Sekilas yang kutangkap tentang sekolah. Ternyata itu tidak berlaku disini. Maka meski hampir setiap hari aku melihat pemandangan yang berbeda di sini, rasanya masih merasa bahwa itu hal aneh.

Aneh ketika melihat anak kesekolah tanpa alas kaki, membawa buku hanya satu, dan kalau pun membawa tas tidak terkesan berat tasnya. Lebih heran lagi melihat anak sekolah berjalan santai meski jam telah menunjukan pukul 07.00 atau pukul 08.00. Hilir mudik anak-anak sekolah jam-jam segitu masih ramai di jalanan. Yang tidak pernah kutemui adalah seorang anak membawa tas besar seolah semua buku pelajaran dibawa dan pulang sore hari.

Mendengar cerita tentang seorang guru yang tidak mengajar berhari-hari bahkan berbulan-bulan itu biasa, melihat anak-anak usia sekolah bermain di kebun atau di jalan-jalan saat jam-jam sekolah itu juga mudah ditemui. Mendengar keluhan dari beberapa guru tentang anak-anak yang susah diajari dan mau sekolah saja sudah baik, ini juga bukan berita baru. Melihat kenyataan bahwa semua anak lulus sekolah ketika UN itu biasa. Tapi jangan kaget jika nyatanya ada yang belum bisa baca tulis dengan lancar. Mendengar kisah pegawai abdi negara libur dari bulan Desember hingga Februari tahun berikutnya itu sangat biasa di telinga.

Kala itu, hujan di pagi hari. Ketika reda, anak-anak sekolah mulai sibuk memadati jalan yang lebarnya 1,5 meter. Tak jauh beda dari hari ke hari. Kulihat beberapa anak SMP berjalan ke arah dermaga. Jam berganti, kulihat si anak kembali ke arah semula. Apa ada yang tertinggal?

Pagi berlalu, di tengah perjalanan kulihat Bibiana, seorang anak kelas 2 SMP duduk di depan rumah membawa parang bersiap pergi ke kebun. Darinya aku paham kenapa anak-anak SMP itu tidak sekolah hari ini. Tidak ada perahu yang mengantar mereka ke kampung seberang. Mungkin air sedang pasang atau ada alasan yang lain. Padahal di pusat distrik itulah sekolah mereka berada. Butuh waktu 30 menit dengan perahu dayung, 10-15 menit dengan motor perahu. Perahu dayung merupakan alat transportasi utama dan ada sejak dulu, sementara perahu dayung bisa dibuat sendiri tanpa perlu membeli di toko ataupun pabrik. Namun tidak setiap orang boleh membuatnya, hanya laki-laki yang diijinkan membuat perahu dayung. Itu pun tidak setiap laki-laki bisa membuatnya. Bahan dasar perahu dayung bisa didapatkan di kebun atau hutan milik sendiri, ukuran perahu sesuai selera. Sedangkan perahu motor seperti speedboat harganya bervariasi namun kira-kira sekitar Rp. 50 juta.

Perahu adalah nyawa penyambung hidup. Pergi ke kebun dengan perahu, membeli kebutuhan dasar yang belum tersedia di sekitar rumah dengan perahu, berobat ke puskesmas pakai perahu. Kalau tidak begitu, maka hidup hanya sekedar hidup, seolah menunggu malaikat menjemput.

Catatan masih berlanjut. Masih di kampung yang sama. Setelah berkisah dengan anak-anak sekolah kini giliran kisah unik anak-anak yang memilih tidak sekolah dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Dari beberapa kampung yang kudatangi hanya di kampung inilah ada kegiatan bersama anak-anak tidak sekolah, khususnya perempuan. Kegiatan ini sudah ada sebelum aku datang. Seorang misioner dari negara lain, biasa disebut Pastor Vince yang merintisnya. Pastor Vince melihat bahwa anak-anak perempuan yang tidak sekolah membutuhkan pendampingan khusus tidak boleh dibiarkan begitu saja. Karena merekalah -anak-anak perempuan Asmat yang tidak sekolah- yang akan meneruskan kehidupan Asmat. Pendampingan ini memiliki dinamika tersendiri. Catatan ini tidak bisa menggambarkan kegiatan tersebut seperti apa. Aku hanya mengambil dari secuil kisah yang ada. Tulisan spontan muncul, dan dari anak-anak itulah aku banyak belajar hidup di Asmat.

2 November 2013

Harus banyak belajar. You do not know anything. Kata-kata itu benar adanya. Pertama kali kaki ini melangkah di tanah Asmat, yang ada hanya terheran-heran saja. Semakin banyak kaki ini melangkah semakin banyak hal tidak kuketahui. Yakin benar bahwa aku tidak tahu tentang apa pun. Akhirnya rasa percaya yang mengalahkan ketidaktahuan. Aku percaya bahwa akan ada waktunya untukku tahu.

Belajar dan belajar. Itu yang kudapat dari tanah Asmat. Bukan, bukan Asmat yang belajar dariku tapi aku belajar dari mereka. Baru tiga hari kutinggalkan gemerlapnya kemajuan jaman seperti telepon seluler, internet, televisi, koran, radio atau penanda kemajuan jaman lainnya. Ini baru tiga hari, masih ada hari-hari selanjutnya. Ketika malam menyapa keheningan pun datang. Hanya mengadu kata dengan yang lain. Listrik teman sejati tatkala gelap juga tak bisa kudapatkan di sini.

Meski aku tidak terlahir di tanah yang disebut ‘kota’, namun bukan berarti tak ada listrik, sinyal, atau penanda kemajuan jaman lainnya di tempat aku dilahirkan. Tapi di sini, aku mulai belajar karena ketidaktahuanku.. Bagiku sederhana saja, bisa bertahan hidup saja sudah luar biasa. Tapi tidak buat orang Asmat. Kengganan abdi negara untuk bekerja membuat Asmat harus berjalan dengan caranya sendiri meski sama-sama  dibawah naungan Merah Putih.

Setiap anak datang dengan membawa parang. Jelas, bahwa parang adalah senjata tajam.  Ada 30-an anak seusia SD-SMP membawa parang. Senjata tajam itu dibawa karena kemarin sore ada perintah dari kakak pendamping. Parang dibawa oleh setiap anak karena kegiatan hari ini adalah gotong-rotong membersihkan rumput di sekitar bermain mereka.

Anak-anak perempuan sejumlah 30-an seusia SD-SMP ini bukanlah anak sekolah formal dengan segudang model ujian nasional. Mereka memang tidak sekolah sejak kecil. Ada banyak alasan kenapa tidak sekolah. Tapi saat ini bukan waktunya membahas alasan-alasan itu.

Parang diayunkan kesana kemari dengan riangnya. Tidak kutemui wajah marah, sedih atau ogah-ogahan di pagi itu. Aku pun tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. “Sekarang pulang dan mandilah, nanti berkumpul lagi di sini” pinta singkat dari kakak pendamping. Satu jam setelah parang-parang menari di atas halaman, anak-anak pun berdatangan lagi.

Berdandan cantik, memakai baju warna cerah bermerk, disetrika, berparfum, pegang HP? Jangan berharap terlalu tinggi. Halhal semcam itu tidak akan di temui disini. Anak-anak Asmat mempunyai cara hidup sendiri. Memakai baju lengkap saja sudah syukur, ada air bersih untuk masak dan mandi saja sudah terimakasih, mempunyai baju yang warnanya masih bisa ditebak saja minta ampun senengnya, badannya tidak berbau saja hatinya sudah gembira.

Dorang kumpul lagi, yang sepertinya tidak ada bedanya saat mereka membawa parang pagi tadi dengan sesudahnya. Pelajaran siang itu tidak banyak, satu bahasan saja yaitu tentang kejujuran di zaman ini, setelah itu mereka bernyanyi. Itu sudah.

Upah dari gotong-royong pagi tadi adalah segelas teh atau segelas air putih. Aku tak mampu berkata-kata, hanya segelas teh atau air putih siang itu membuat mereka senang bukan kepalang. Dibagikan secara bergantian karena gelasnya terbatas. Semua antri, tidak berebut. Sekali lagi hanya segelas teh atau segelas air putih, mereka harus memilihnya karena memang tidak banyak persediaanya. Sederhana sekali makna bahagia buat anak-anak itu.

Sebelum selesai, kakak pendamping membagikan satu persatu baju pantas pakai, bukan baju baru untuk mereka. Tapi jangan dibayangkan baju pantas pakai model anak-anak zaman sekarang di kota-kota yang mudah bergaul dengan sinyal. “Andai saja, Asmat hanya sepelemparan batu dari rumahku, berapa banyak baju pantas pakai yang bisa kuberikan” pikiran dangkalku sesaat. Tapi kemudian aku berpikir, bahwa sebenarnya bukan persoalan berapa banyak baju yang bisa kuberikan pada mereka tapi ada hal yang jauh lebih berharga yang bisa dibagikan.

Siapa saja yang bersedia datang ke Asmat tidak perlu hal yang muluk-muluk. Bukan persoalan berapa gelar sarjana yang kita miliki. Bukan seberapa pintar kita berpidato di depan kelas. Bukan seberapa banyak fans yang kita miliki. Bukan seberapa suci kita. Bukan persoalan seberapa banyak harta yang dimiliki. Bukan pula seberapa muda atau tua usia kita. Datang, lihat dan rasakan sensasinya, mari belajarlah dari anak-anak Asmat.

Beberapa kisah yang tercatat memang tidak bisa menggambarkan apa dan siapa anak-anak Asmat. Sengaja kisah itu tidak kubuat dalam kutipan yang akan terurai dengan penjelasan-penjelasan lainnya. Ini hanya sekedar berbagi pengalaman. Saat ini anak-anak Asmat masih hidup dengan caranya sendiri. Tidak mudah menggambarkan kebutuhan terbaik untuk mereka. Rumusan terbaik tidak selesai hanya di atas lembaran kertas atau debat panjang di ruang pertemuan sekelas internasional sekali pun. Wilayah Asmat yang khas tidak bisa disamakan dengan wilayah lain, bahkan dengan yang sama-sama disebut sebagai wilayah pedalaman. Ini hanya sedikit melihat dari sisi lain, yaitu dari hak pendidikan anak. Belum menyentuh hak-hak lain yang harusnya dimiliki oleh anak-anak Asmat.

Selamat hari anak, selamat memerdekakan pikiran demi anak-anak dan bangsa serta kehidupan ini yang lebih bermartabat.

Maria Sucianingsih
Departemen Penguatan Masyarakat Yayasan SATUNAMA
Staf Program Asmat Yayasan SATUNAMA

(Visited 104 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*