Sedekah Bumi untuk Memperingati Hari Bumi ke 40

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Earth Palm to commemorate the 40th Earth Day

[photo1]

SATUNAMA commemorate the 40th Earth Day at its compound in Mlati, Sleman, Yogyakarta by conducting the Earth Palm. This event is to reflect the earth’s existence as the place we live. The earth is getting older and its condition is getting more vulnerable. There has been damage that lead to uncomfortable situation for people who live on it. Some experts say that human life activities result exhaust emission that contribute the damage, besides there is water pollution that makes even worse. We are warned to introspect ourselves and start to protect and maintain our earth to be delivered to the next generation.

Started from 20 April the PEP (People Empowerment Program) Division’s staff and their farmer target groups conducted an evaluation and planning to empower the multi-parties cooperation to decrease disaster risks through a friendly farming program. They did not think that lessening smoking habitual, turning off lights when it was not used, not to burn garbage as well as decreasing plastic use were also ways to maintain nature reservation.
The above activities become the core event with theme ”Proof your Love to the Earth Although it is only by Doing One Action”. It shows an answer of the 2010 International Earth Day that is ”Green Up Your Action”. SATUNAMA and its farmer target groups conduct an action to develop a joint committment through a love agreement to the earth. Every participant writes an action she/he will do to save the earth in a piece of cloth. Rahmanto, a PEP staff who is the committee chair said: ”The signed cloth will be framed to remind people to do earth reservation”.

[photo2]

Danarto, a farming consultant who attends in the event shares his experience on organic farming. He states that to go back to organic farming after so long using factory made sheeds is difficult. ”I used to get a legal claim from the Agriculture Department after planting scarce local seeds such as black rice. The government sues me of not using seeds such as IR 64, Sinta Nur, Ciherang, etc”. He adds that he wants to be independent and not depend on factory seeds, because he beliefs that organic products have special quality such as taste better, can stand dryness and consume less nutrient.

The ceremony is closed by a ritual meal and eating together as an expression of greatful to the earth.Sedekah Bumi untuk Memperingati Hari Bumi ke 40

[foto1]

Kamis, 22 April 2010, SATUNAMA di Pusat Pelatihannya, Jl. Sambisasi no 99, Duwet RT 07/ 34, Sendangadi, Mlati, Sleman mengadakan Sedekah Bumi yang merupakan puncak serangkaian peringatan Hari Bumi ke 40. Acara ini merupakan ajang refleksi SATUNAMA terhadap keberadaan bumi yang kita huni. Bumi ini semakin tua dan kondisinya semakin memprihatinkan. Muncul berbagai kerusakan yang mengakibatkan para penghuninya tidak lagi merasa nyaman. Para ahli berpendapat jika aktivitas kehidupan manusia menghasilkan emisi gas buang yang menjadi penyumbang kerusakan tersebut. Berbagai bentuk pencemar lain seperti air dan tanah semakin memprihatinkan pula. Selayaknyalah kita sebagai penghuni ini mawas diri dan mulai menjaga dan merawat bumi untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Sebelumnya, mulai tanggal 20 April, petani dampingan dan fasilitator dari Divisi People Empowerment Program melakukan evaluasi dan perencanaan untuk memperkuat kerjasama multi pihak dengan upaya pengurangan resiko bencana melalui program pertanian ramah lingkungan. Selama ini, petani mengira bahwa upaya pelestarian bumi hanya dapat dijawab dari gerakan pertanian lestari. Padahal ada hal-hal kecil seperti mengurangi kebiasaan merokok, mematikan lampu, membakar sampah, hingga mengurangi pemakaian plastik jika dilaksanakan tiap hari oleh banyak orang mampu menjaga kelestarian alam.

Hal tersebut yang menjadi inti acara memetri bumi dengan pesan” Buktikan Cintamu pada Bumi Walau Hanya Melalui Satu Aksi Saja”. Tema ini merupakan jawaban dari tema global Hari Bumi Internasional tahun 2010 yakni ”Green Up Your Action.” Petani dampingan dan staf SATUNAMA melakukan aksi membangun komitmen bersama melalui akad cinta terhadap bumi. Di sini, masing-masing peserta menuliskan aksi ramah bumi yang akan ia laksanakan di selembar kain blacu. ”Kain tersebut ditanda tangani oleh 3 orang peserta lain, kami berharap supaya akad tersebut akan diberi pigura dan dipajang dirumah masing-masing supaya peserta ingat untuk melaksanakan janjinya. Akad ini merupakan gerakan rakyat untuk perubahan pola perilaku masyarakat yang cenderung tidak ramah terhadap alam.” tutur Rahmanto, staf Divisi People Empowerment Program SATUNAMA yang menjadi ketua panitia.

[foto2]

Pada acara tersebut, Danarto, seorang konsultan pertanian, membagikan pengalamannya kembali ke pertanian organik dan varietas lokal. ”Kembali ke organik setelah memakai benih buatan pabrik itu susah. Dulu, saya pernah mendapat somasi dari Dinas Pertanian setelah menanam benih lokal yang mulai langka seperti beras hitam. Waktu itu pemerintah beranggapan jika saya tidak menaati anjuran pemerintah untuk menanam benih-benih seperti IR 64, Sinta Nur, Ciherang, dan sebagainya.” Ia juga menambahkan jika keinginannya untuk menanam benih lokal muncul karena ingin mandiri dan tidak tergantung pada benih-benih buatan pabrik. Selain itu, produk organik mempunyai keunggulan tertentu seperti tahan terhadap kekeringan, umur lebih pendek, rasa lebih enak, dan lebih sedikit mengkosumsi unsur hara.

Rangkaian acara ini berakhir dengan sedekah bumi dalam bentuk kenduri sebagai ungkapan terima kasih kepada bumi yang memberikan panen melimpah pada musim tanam pertama ini. Sebelum semua peserta menikmati hidangan, Pak Harsono, Kaum Dusun Duwet yang didaulat memimpin Sedekah Bumi, menjelaskan mengenai uba rampe sedekah. Ingkung, nasi tumpeng, rujak degan, jenang palang, sekar koyo, mendung paitan, jenang cemeng, jajanan pasar dan gedang emas merupakan simbol adanya harapan supaya Tuhan melimpahkan rahmat dan keselamatan terhadap seluruh penduduk bumi. Hal ini dapat tercapai jika manusia hidup rukun dan selaras baik dengan alam maupun dengan manusia lainnya. Ritual Sedekah Bumi memberikan kontribusi terhadap pelestarian jenis tanaman tertentu karena Uba rampe yang menjadi syarat kenduri menggunakan produk –produk lokal dari petani.

(Visited 162 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*