Orang-orang Kuat yang Menanggung Beban Berat

Kisah pengungsi Ahmadiyah di Mataram
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook33Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Dapur darurat yang terbuat dari kayu, papan, seng dan tripleks bekas itu berjajar dari halaman depan gedung Transito sampai ke halaman belakang. Dapur bersekat-sekat tripleks itu digunakan sebagai tempat memasak bagi masing-masing keluarga yang mengungsi dan terpaksa tinggal secara tidak layak di sana.

Tiga puluhan keluarga Ahmadiyah yang sekarang tinggal di gedung penampungan ini telah kehilangan rumah dan harta benda lain dalam peristiwa penyerangan dan kekerasan di Ketapang, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, 8 tahun yang lalu.

“Ayo duduk di sini dan minum kopi dulu” ajak pak Saefullah ramah. Anak perempuannya segera membuat dua cangkir kopi dan meletakkannya di dipan darurat dari kayu bekas. Dipan itu terletak di atas selokan kecil saluran air, persis di depan dapur darurat. Dipan itu berfungsi sebagai tempat untuk bersantai sekaligus sebagai tempat menerima tamu. Langit malam yang luas adalah atapnya.

“Ini kerupuk dan lemang bikinan sendiri. Ayo diicipi mas, semoga enak” kata ibu Solekhah, tetangga pak Saefullah, yang tanpa diminta langsung menyuguhkan panganan itu di hadapan kami. Saya berterima kasih atas kopi dan panganan yang disediakan ini. Lemang adalah makanan dari beras ketan yang dibungkus daun pisang lalu dikukus. Bentuk dan rasanya seperti lemper di Jawa Tengah.

mtr_ruang santai ruang tamu
Ruang menerima tamu di pengungsian. [Foto: istimewa]
Botol-botol bekas air mineral, potongan besi dan kayu-kayu bekas, teronggok di samping dipan. Pak Saefullah yang mengundang minum kopi adalah pengungsi yang tinggal di Transito dan sekarang terpaksa bekerja sebagai pemulung barang bekas. Setiap hari ia berjalan kaki sambil membawa karung besar untuk mencari barang bekas yang dapat dijual. Botol-botol plastik kecil bekas susu yang sudah dibersihkan dan dicuci, satu bijinya berharga dua ratus rupiah. Botol dan gelas plastik air mineral  dapat dijual dengan harga tiga puluh ribu rupiah setiap kilonya. Tetapi untuk mendapatkan satu kilogram botol plastik bekas, kadang-kadang dibutuhkan waktu dua atau tiga hari dan harus berkeliling cukup jauh.

“Dulu sebelum peristiwa penyerangan, saya bekerja sebagai tukang bangunan sekaligus tukang kayu. Tetapi karena kondisi seperti ini, saya terpaksa menjadi pemulung, mengumpulkan barang bekas untuk dijual”, kata pak Saefullah mengisahkan sejarah hidupnya. “Saya sudah tidak kuat lagi menjadi tukang bangunan. Meskipun penghasilannya lebih sedikit, sebagai pemulung, saya masih dapat mengaso. Sesekali saya masih menerima pesanan dari orang yang ingin dibuatkan lemari, meja atau kursi”, lanjutnya.

Pak Saefullah adalah salah satu dari tiga puluhan keluarga pengungsi Ahmadiyah yang terpaksa tinggal di Wisma Transito, sebuah bangunan tua milik Dinas Transmigrasi, Pemkot Mataram, NTB. Mereka menempati tiga bagian gedung yang disekat-sekat menggunakan triplek sehingga menjadi kamar-kamar keluarga.

Gelap, sumpek, panas, kumuh, banyak nyamuk, dan sangat tidak nyaman. Ini sebuah tempat tinggal yang sangat tidak layak. Kamar mandi dan WC yang jumlahnya tidak seberapa, digunakan bersama-sama oleh semua keluarga. Bahkan ada satu buah kamar terbuat dari triplek bekas yang terletak persis menempel pada deretan WC di dekat mushala. Kamar itu dihuni oleh sepasang kakek-nenek yang sudah sakit-sakitan. Tak ada lagi sisa ruangan yang dapat ditempati sehingga mereka terpaksa tinggal di deretan WC itu. Ruangan bekas dapur di gedung itupun terpaksa disulap menjadi kamar tidur salah satu keluarga.

Pak Muhammad yang sehari-harinya berjualan kelapa di pasar, kebetulan lewat dan diajak bergabung. pak Saefullah meminta anaknya membuat secangkir kopi lagi untuk pak Muhammad.

“Sebenarnya kami ingin sekali dapat segera keluar dari sini dan hidup di rumah yang layak. Kami sudah tak memiliki lagi aset yang dapat dijual untuk mengontrak rumah atau membeli rumah paling murah sekalipun. Kalau sudah memiliki modal, kami ingin membeli perumahan BTN yang termurah atau yang tidak laku dijual karena tidak diminati” kata pak Muhammad penuh harapan.

“Saat ini kami bertahan di sini karena kami baru dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Meskipun tidak setiap hari berpenghasilan baik, kami dapat mengaturnya agar cukup. Kesulitan yang kami hadapi ini merupakan konsekuensi dari keyakinan yang harus kami pikul” lanjut pak Muhammad.

Sebagian besar orang yang mengungsi dan tinggal di gedung Transito ini, sebelumnya adalah petani sederhana. Setelah mengungsi, mereka terpaksa bertahan hidup dengan beragam pekerjaan. Ada yang menjadi pemulung, tukang cukur rambut, penjual mie ayam, tukang ojek, membuka jasa servis elektronik kecil-kecilan, ada yang tetap menjadi buruh tani, berjualan kelapa atau sayuran di pasar, menjual serabi sederhana, membuka warung kelontong di halaman depan gedung Transito dan ada yang menjadi buruh jasa loundry di sekitar kota Mataram.

mtr_dapur darurat
Bilik-bilik pengungsian di Transito. [Foto: istimewa]
Tinggal di tempat yang sangat tidak layak dan menghadapi kesulitan yang menghimpit selama bertahun-tahun tentu saja menimbulkan rasa berat dan lelah bagi siapapun. Suasana lelah dan berat tampak jelas dalam wajah pak Saefullah, pak Muhammad, maupun ibu Solekhah. Meskipun demikian, keramahtamahan dan kemurahan hati mereka tetap memancar. “Situasi ini memaksa kami untuk mencari cara agar kami tetap bertahan hidup. Kami harus belajar melatih mental kami sendiri agar berani mencoba pekerjaan baru. Memang sulit, tetapi mau bagimana lagi? Kami harus melatih mental kami untuk melakukan hal baru yang belum pernah kami lakukan” kata pak Muhammad tegar.

Apa yang dinyatakan oleh pak Muhammad memang benar. Ketika kami sedang ngobrol, ibu Solekhah tampak keluar dari dapur daruratnya sambil membawa makanan berukuran kecil terbungkus daun yang baru selesai dikukus. Satu persatu makanan itu ditempatkan di atas tampah. “Ini namanya lopis mas”, kata bu Solekhah memberi penjelasan. “Saya membuatnya malam ini supaya besok pagi tinggal menyampurnya dengan kelapa parut dan gula merah lalu dijual di halaman depan”, lanjutnya. “Kalau pagi saya berjualan lopis. Kalau sore saya berjualan serabi.” katanya lagi. Lopis dan serabi yang dibuat oleh ibu Solekhah itu harganya Rp.500 setiap bijinya. Setiap hari selalu habis terjual. Pembelinya bukan hanya warga Transito melainkan juga warga kampung sekitar. Dari lopis dan serabi itulah, ia berjuang mempertahankan hidup, serta mengurus suaminya yang sakit-sakitan.

Dalam perjalanan pulang, saya menyadari bahwa saya baru saja menjumpai orang-orang yang tegar, berjiwa besar, penuh ketulusan dan murah hati. Mereka adalah orang-orang kuat yang berjuang menanggung beban berat. Di hadapan mereka, saya merasa sangat kecil dan bukan apa-apa. Dari kedalaman batin, saya menyaksikan kekuatan besar yang bersemayam dalam diri mereka. Pengalaman nyata ini membungkam seluruh diri saya dan hanya mampu bersujud sambil mengucap…”Allahhu Akhbar….Tuhan sungguh Maha Besar”.

Barangkali memang benarlah apa yang dinyatakan oleh kebijakan kuno itu, ”Sesungguhnya, Tuhan hadir di dalam diri orang-orang yang tersingkir”.

Indro Suprobo
Staf Lapangan
Departemen Penguatan Masyarakat SATUNAMA
Wilayah Mataram

(Visited 394 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook33Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

1 Comment

  1. Luar biasaa tulisan Mas indro mampu mendiskripsikan situasi n kondisi reel warga ahmadiyah di Transito dengan sangat santun, bersahaja namun mampu menggugah setiap pembaca.
    thanks
    Wassalam
    Saleh Ahmadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*