Pelatihan History of Though II

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

This article only written in Bahasa Indonesia “Orang luar tahu tentang Indonesia itu saat ada bencana alam. Politik Indonesia yang sampai ke luar juga tentang kotornya. Tapi, kita masih bisa melihat ada sisi lain dari Indonesia supaya kita tidak pesimis. Jika kita tidak berani bercita-cita mengenai masa depan Indonesia, perubahan tidak mungkin terjadi. Silahkan saja tinggal di negeri anarkis,” tutur Hardono Hadi saat memfasilitasi salah satu sesi pelatihan. Peserta kemudian membagi diri dalam kelompok kecil dan mulai berdiskusi mengenai seperti apa Indonesia di masa mendatang dan kualitas pribadi yang bagaimana yang bisa mewujudkannya. Sesi tersebut merupakan salah satu bagian dari pelatihan History of Though II yang berlangsung di Balai Pelatihan SATUNAMA dari tanggal 25 hingga 30 Oktober 2010. Para pakar seperti Emanuel Subangun, Haryatmoko, Budi Hardiman, dan Sony Keraf menemani 13 peserta ( laki-laki dan perempuan) bertukar pikiran mengenai posisi mereka apabila dikaitkan dengan kondisi politik, lingkungan, dan ekonomi di Indonesia. Pada masing-masing sesi pelatihan, peserta bertukar pikiran dan mempertanyakan jati dirinya serta alasan mereka saat melakukan sesuatu. Peserta banyak menggali aspek yang membentuk jati diri mulai dari kesejarahan hidup, sisi intelektual, estetik, dan sosial yang membentuk kualitas pada diri seseorang. ”Pelatihan ini menekankan pada affirmasi diri. Supaya nanti jika peserta aktif di suatu kegiatan, mereka punya komitmen di sana dan tahu alasannya kenapa. Dan kedepannya peserta memiliki gambaran apa yang mau ia capai,” tambah Hardono Hadi yang menjadi fasilitator. History of Though II ini penuh dengan diskusi dalam kelompok kecil. Peserta berdialog menganai tribalisme, sektarialisme dan primordialisme yang terjadi di Indonesia dengan studi kasus seperti FPI, Lia Eden, dan konflik antara Suku Dayak dan Madura. Sebelum masuk ke diskusi mengenai lingkungan, peserta menonton film The Age of Stupid. Film yang menceritakan mengenai kerusakan bumi pada tahun 2055 memancing peserta untuk mempertanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi kerusakan bumi. Dalam sesi yang mendiskusikan mengenai struktur ekonomi yang mempengaruhi kehidupan, Emanuel Subangun juga menjelaskan mengenai cara membaca teks media. Menurut sosiolog ini, berita bukanlah sesuatu yang bisa ditelan begitu saja. Seorang pekerja media yang hidup dari gaji akan mengikuti aturan media tersebut. Berita bukanlah sesuatu yang netral karena ia berpihak pada kepentingan tertentu.

“Orang luar tahu tentang Indonesia itu saat ada bencana alam. Politik Indonesia yang sampai ke luar juga tentang kotornya. Tapi, kita masih bisa melihat ada sisi lain dari Indonesia supaya kita tidak pesimis. Jika kita tidak berani bercita-cita mengenai masa depan Indonesia, perubahan tidak mungkin terjadi. Silahkan saja tinggal di negeri anarkis,” tutur Hardono Hadi saat memfasilitasi salah satu sesi pelatihan. Peserta kemudian membagi diri dalam kelompok kecil dan mulai berdiskusi mengenai seperti apa Indonesia di masa mendatang dan kualitas pribadi yang bagaimana yang bisa mewujudkannya.

Sesi tersebut merupakan salah satu bagian dari pelatihan History of Though II yang berlangsung di Balai Pelatihan SATUNAMA dari tanggal 25 hingga 30 Oktober 2010. Para pakar seperti Emanuel Subangun, Haryatmoko, Budi Hardiman, dan Sony Keraf menemani 13 peserta ( laki-laki dan perempuan) bertukar pikiran mengenai posisi mereka apabila dikaitkan dengan kondisi politik, lingkungan, dan ekonomi di Indonesia.

Pada masing-masing sesi pelatihan, peserta bertukar pikiran dan mempertanyakan jati dirinya serta alasan mereka saat melakukan sesuatu. Peserta banyak menggali aspek yang membentuk jati diri mulai dari kesejarahan hidup, sisi intelektual, estetik, dan sosial yang membentuk kualitas pada diri seseorang. ”Pelatihan ini menekankan pada affirmasi diri. Supaya nanti jika peserta aktif di suatu kegiatan, mereka punya komitmen di sana dan tahu alasannya kenapa. Dan kedepannya peserta memiliki gambaran apa yang mau ia capai,” tambah Hardono Hadi yang menjadi fasilitator.

History of Though II ini penuh dengan diskusi dalam kelompok kecil. Peserta berdialog menganai tribalisme, sektarialisme dan primordialisme yang terjadi di Indonesia dengan studi kasus seperti FPI, Lia Eden, dan konflik antara Suku Dayak dan Madura. Sebelum masuk ke diskusi mengenai lingkungan, peserta menonton film The Age of Stupid. Film yang menceritakan mengenai kerusakan bumi pada tahun 2055 memancing peserta untuk mempertanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi kerusakan bumi.

Dalam sesi yang mendiskusikan mengenai struktur ekonomi yang mempengaruhi kehidupan, Emanuel Subangun juga menjelaskan mengenai cara membaca teks media. Menurut sosiolog ini, berita bukanlah sesuatu yang bisa ditelan begitu saja. Seorang pekerja media yang hidup dari gaji akan mengikuti aturan media tersebut. Berita bukanlah sesuatu yang netral karena ia berpihak pada kepentingan tertentu.

(Visited 132 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*