Keningar Cross Visit, Kisah Kegiatan Mahasiswa Australia di Dekat Puncak Merapi

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook3Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Minggu, [8/2/15], delapan belas mahasiswa The University of Melbourne Australia melakukan kunjungan ke Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ini merupakan salah satu agenda mereka selama melakukan kegiatan kerja komunitas di Jawa tengah dan DIY sejak Januari lalu.

Sebelumnya selama tiga minggu, bekerja sama dengan SATUNAMA, delapan belas orang mahasiswa ini telah tinggal dan melakukan kerja bersama masyarakat di empat desa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka terbagi dalam empat kelompok yang masing-masing ditempatkan di Keningar [Magelang], Sitimulyo [Bantul], Kadilajo [Klaten] dan Duwet [Sleman]. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang mahasiswa yang ditemani seorang penterjemah untuk dapat berhubungan dengan masyarakat desa yang ditinggali.

Kunjungan ke Keningar ini merupakan sebuah kunjungan silang di mana seluruh mahasiswa hadir bersama dengan komunitas anak-anak masyarakat desanya masing-masing dan kemudian melakukan beberapa kegiatan bersama masyarakat Desa Keningar.

Tanam Pohon, Bernyanyi dan Menari.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menanam pohon di Taman Nasional Gunung Merapi, di dekat puncak Gunung Merapi, karena Keningar memang terletak dekat dengan puncak Merapi. Tujuan penanaman pohon ini adalah untuk penghijauan di sekitar lereng dan puncak Merapi, karena sejak erupsi 2010, wilayah Keningar mengalami penambangan pasir yang cukup masif, sehingga banyak bagian wilayah Keningar yang kehilangan keasriannya.

keningar track
Menuju Taman Nasional Merapi [Foto: Fitri Khasanah/Sitimulyo]
Kegiatan penanaman pohon berjalan cukup menarik. Dari rumah salah satu warga yang menjadi titik kumpul, rombongan yang terdiri dari para mahasiswa Australia dan komunitas masyarakat desa bergerak jalan kaki menuju lokasi Taman Nasional yang berjarak sekitar 3 km. Rombongan yang berjumlah puluhan orang mengular di sepanjang jalur menuju Taman Nasional. Udara cukup cerah pagi itu.

Kegiatan selanjutnya adalah pentas seni atau art performance dari keempat kelompok mahasiswa beserta anak-anak dari desanya masing-masing.

Tampil giliran pertama adalah kelompok dari Sitimulyo-Bantul yang menggeber komposisi lagu “Gundul-Gundul Pacul” yang diaransemen khusus dengan permainan empat buah jimbe dan instrumen saron yang dimainkan oleh anak-anak Sitimulyo berkolaborasi dengan dua mahasiswa yang tergabung di kelompok Sitimulyo yaitu Nicholas dan Henry.

Penampilan mereka ditutup dengan sebuah lagu berjudul “We Are From Sitimulyo” yang menampilkan lirik dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan dinyanyikan oleh para mahasiswa dan anak-anak kelompok Sitimulyo. Lagu “We Are From Sitimulyo” merupakan modifikasi dari refrain lagu “We Are Australian” yang diciptakan pada 1987 oleh Bruce Woodley, seorang pencipta lagu asal Melbourne, Australia. Oleh anak-anak Sitimulyo dan para mahasiswa, lirik lagu ini diubah sebagian, disesuaikan dengan tema Desa Sitimulyo dan kemudian dibuat dalam dua versi bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris.

Penampil kedua adalah kelompok dari Duwet-Sleman. Kelompok yang sebagian besar diisi oleh cewek-cewek ini menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi gitar yang dilanjutkan dengan performance dua buah game, satu berasal dari Indonesia yaitu “Cublak-Cublak Suweng” dan satu lagi dari Australia yaitu “Hokey-Pokey”.

Kelompok Kadilajo-Klaten menjadi penampil berikutnya dengan mengedepankan pembacaan puisi, catatan cita-cita diri dan seruan slogan Hak Anak yang diikuti oleh seluruh hadirin siang itu. Sebagai penutup, tampil kelompok tuan rumah Keningar-Magelang yang –tidak tanggung-tanggung- muncul bersama grup tarian “Cakalele” selama sekitar 20 menit lengkap dengan kostum dan rias wajah dan perangkat gamelan lengkap.

Cakalele
Kiri-Kanan : Tim White, Karina Pennell, Tara Bewley mementaskan tari Cakalele. [Foto : Maria Sucianingsih/SATUNAMA]

Walhasil, semua yang hadir menjadi senang dan terhibur ketika Sam, Tim, Karina dan Tara, empat mahasiswa yang tergabung di kelompok Keningar muncul –juga dengan kostum dan rias wajah- dan ikut menari bersama anak-anak dari Keningar. Tidak heran jika kemudian kelompok Keningar menyabet peringkat pertama The Best Performance di antara empat kelompok yang ada. Peringkat kedua diraih oleh kelompok Sitimulyo yang disusul oleh kelompok Duwet di peringkat ketiga dan terakhir adalah kelompok Kadilajo.

Kado Sederhana untuk Semua

Seusai pentas seni, acara dilanjutkan dengan tukar kado. Masing-masing kelompok sudah membawa dan menyiapkan kado sederhana seharga tidak lebih dari Rp. 5.000 yang dibungkus dengan kertas bekas atau kertas koran. Kado-kado ini kemudian diacak dan para peserta saling tukar kado satu sama lain. Ada yang mendapat buku tulis, pulpen, tempat pensil, bros dsb.

Acara terakhir hari itu adalah presentasi masing-masing kelompok tentang apa yang sudah dilakukan selama 3 minggu di desa masing-masing. Presentasi menggunakan media semacam mading atau kolase yang dilengkapi dengan gambar foto dan caption/tulisan. Nampak bahwa setiap kelompok telah cukup banyak melakukan kegiatan di desa masing-masing dalam bentuk program-program yang diharapkan ke depannya bisa ditindaklanjuti oleh masyarakat desanya masing-masing.

Kunjungan silang Keningar yang diadakan di akhir minggu ketiga masa tinggal para mahasiswa Australia ini merupakan salah satu agenda kegiatan mereka di DIY dan Jateng selama 3,5 minggu. Seluruh mahasiswa ini telah tinggal dan bekerja bersama masyarakat  di desa sejak 21 Januari 2015 dan berakhir pada 15 Februari 2015 . Fokus kerja mereka adalah anak-anak di setiap desa di mana mereka ditempatkan, dengan tujuan utama kerja yaitu meletakkan pondasi untuk membangun Desa Ramah Anak di masing-masing desa.

Penulis : Ariwan K Perdana

(Visited 142 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook3Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*