Cerita tentang Samin Bauw Solowat

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

The land in Taroy Vilage is not good for farming. According to Mr.Sigit, from SATUNAMA, the land is too acidic which makes it difficult to grow anything. I followed advice from SATUNAMA to make compost from household waste and sand from the beach. After six months the compost was ready to use. I build a shed and aplanted long bean, mustard green, kangkung and eggplant seeds, from the garden was used by my wife for consumption at home or sold.
When my wife gave birth to twins there were complications and my wife was hemorrhaging, I had to get her to the hospital in binturi. I was worried because I didn’t have any money and it takes about three hours in a longboat to get to bintuni, using about 60 liter of petrol. In my village. 1 liter of petrol cost Rp 10.000 so I needed Rp.600.000. while I was worrying about all this, suddenly my wife said that she had saved some money from selling vegetables and had put in under the pillow. I found the money and counted it, there was Rp.1,5 milion. I took her straight to bintuni, thankfully she recovered.
Just look at our success, now there are 36 women that are interested in planting vegetables in their backyards. Every three days Ivisit them to explain how to take care of their vegetable gardens. However, in the beginning because it is difficult t raise seendling I would grow them first and then hand them out to the women. Now since I have explained to them how to save their own seeds they can do it themselves. To do this they have to let some plants mature and then dry the seeds. Saving seeds ourselves means that we are not dependent any longer on assistance from BP and SATUNAMA.
You can help SATUNAMA in its goal to improve livelihoods in its target groups. Please contact us at the address below for details.
Wahyu
This story is part from Livelihood Sustainability Program, funded by BP Migas (2004-2009)

Tanah di kampung Taroy ini tidak cocok untuk pertanian. Menurut Pak Sigit dari SATUNAMA, tanah disini terlalu asam, sehingga harus dilakukan usaha keras untuk bisa menanam sesuatu. Saya ikut saran untuk membuat kompos dari sampah-sampah di bawah rumah. Saya juga kumpul-kumpul pasir laut untuk dibuat kompos. Setelah 6 bulan, kompos sudah jadi dan siap digunakan. Saya buat bendeng dan tanam benih dari SATUNAMA di pekarangan rumah. Saya tanam kacang panjang, sawi, kangkung, dan terong. Hasil panennya diolah oleh istri saya untuk makan keluarga, dan kelebihanya dia dijual.

Suatu ketika, istri saya harus melahirkan anak kembar. Ternyata terjadi kesulitan dan pendarahan, sehingga harus dibawa ke rumah sakit di Bintuni. Saya bingung karena tidak punya uang. Jarak dari kampung saya ke Binturi sekitar 3 jam perjalanan dengan menggunakan longboat. Itu berarti butuh sekitar 60 liter bensin. Dengan harga bensin Rp. 10.000,- di kampung saya, berarti dibutuhkan uang Rp 600.000,-. Dalam kebingungan tersebut, tiba-tiba istri saya mengatakan kalau ia ada simpanan uang hasil jual sayur dibawah bantal. Saya ambil dan hitung, ternyata ada 1,5 juta rupiah. Langsung saya bawa istri ke bintuni. Alhamdullilah, istri saya selamat.
Melihat keberhasilan kami, sekarang ada 36 ibu yang tertarik juga untuk ikut tanam sayur di pekarangan. Setiap tiga hari saya keliling untuk bantu kasi penerangan ke ibu-ibu. Tapi karena untuk menyemai benih agak sulit, akhirnya saya semai dulu benih yang ada, baru setelah agak besar , dibagikan ke ibu-ibu. Sekarang saya sedang kasih jelas ke ibu-ibu untuk buat benih sendiri. Caranya dengan membiarkan beberapa buah kedua dan ketiga hingga matang. Setelah itu bijinya diambil dan dikeringkan. Membuat benih sendiri itu perlu agar kita tidak tergantung lagi pada bantuan BP dan SATUNAMA.
Anda bisa membantu SATUNAMA untuk mencapai tujuannya dalam meningkatkan matapencaharian di kelompok dampingannya melalui berbagai pendekatan. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami ppada alamat dibawah ini.
Wahyu
Cerita ini merupakan bagian dari program Livelihood Sustainabillity di Teluk Bintuni, CSR BP Migas, berlangsung tahun 2004 – 2009.

(Visited 93 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*