Satunama.org – Dalam kerja organisasi masyarakat sipil, keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari berapa banyak kegiatan yang terlaksana. Lebih jauh, organisasi perlu mengetahui apakah intervensi yang dilakukan benar-benar menghasilkan perubahan bagi masyarakat. Perspektif inilah yang menjadi salah satu dasar SATUNAMA Training Center dalam menyelenggarakan Pelatihan Monitoring, Evaluation, and Learning (MEL) selama tiga hari, 9–11 September 2026. Kegiatan intensif yang diselenggarakan di ruang Kelas Hitchma SATUNAMA Training Center, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut diikuti tujuh peserta dari berbagai daerah dan latar belakang organisasi, termasuk satu peserta dari Timor-Leste.
Pelatihan ini mendorong peserta melihat pemantauan dan evaluasi tidak semata sebagai pemenuhan kewajiban administrasi, tetapi sebagai bagian dari proses untuk memahami perkembangan dan perubahan yang dihasilkan program. Pada hari pertama pelatihan, 9 September 2026, agenda diawali dengan sesi pembekalan mendalam mengenai pengenalan substansi dasar MEL. Pemateri, Bima, memaparkan perbedaan esensial antara fungsi pemantauan dan evaluasi dalam manajemen program sosial. “Pemantauan pada dasarnya berfokus pada pertanyaan apakah kita telah menjalankan seluruh alur kerja dengan benar, sedangkan evaluasi bertujuan untuk memastikan apakah langkah yang kita ambil sudah merupakan hal yang tepat untuk dilakukan,” ujar Bima.

Usai penanaman persepsi mendasar tersebut, pembelajaran dilanjutkan dengan pembahasan materi Tangga Perubahan, sebuah analogi untuk memahami logika berpikir dalam melihat alur hasil program, dimulai dari Activity/Input (apa yang dilakukan) → Output (hasil langsung kegiatan) → Outcome (perubahan perilaku/kondisi) → Impact (manfaat luas jangka panjang).
Memasuki hari kedua, 10 September 2026, materi berfokus pada penyusunan instrumen lapangan melalui pembuatan matriks indikator dan pemetaan aktor. Pemateri pelatihan, Dwi, menggarisbawahi pentingnya keterukuran dan penyesuaian konteks dalam setiap program pembangunan. “Indikator merupakan ukuran yang spesifik untuk memperlihatkan tingkat kemajuan terhadap hasil yang telah direncanakan dalam mencapai tujuan program,” jelas Dwi.
Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya melakukan evaluasi ex-ante, studi baseline, maupun asesmen kebutuhan sebelum intervensi program dilakukan. Ketiga pendekatan tersebut membantu organisasi memastikan bahwa desain program benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat yang akan didampingi, sehingga intervensi yang dirancang tidak hanya didasarkan pada perspektif atau asumsi organisasi. Sesi hari kedua ini kemudian dilanjutkan dengan materi pemetaan aktor guna menganalisis pengaruh dan kepentingan para pemangku kepentingan kunci dalam sebuah program.
Pada hari ketiga, 11 September 2026, peserta dibekali dengan keterampilan menulis narasi capaian dan penerapan metode penulisan perubahan paling signifikan atau Most Significant Change (MSC) serta Cerita Sukses. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menggali dinamika perubahan mendalam yang dialami langsung oleh masyarakat penerima manfaat, kemudian merangkaikannya ke dalam narasi capaian dan perubahan yang logis serta komunikatif. Melalui pendekatan ini, perubahan tidak hanya dibaca melalui angka dan indikator, tetapi juga melalui pengalaman nyata masyarakat yang menjadi bagian dari program.

Sebagai penutup, Bima, memberikan materi terkait evaluasi yang mencakup relevansi, efektivitas, efisiensi, dampak, dan keberlanjutan. Kemudian dilanjutkan dengan materi pengumpulan bukti-bukti implementasi program atau source of verification (SOV) yang melengkapi proses MEL. Pengumpulan SOV penting karena setiap capaian program perlu didukung bukti yang memadai. Dokumentasi yang lengkap tidak hanya dibutuhkan ketika audit berlangsung, tetapi juga membantu organisasi menelusuri proses dan pembelajaran dari implementasi program.
Kehadiran tujuh peserta dari berbagai daerah menciptakan ruang diskusi yang partisipatif, dengan pengalaman implementasi program/proyek masing-masing menjadi bahan untuk membahas materi dan mengerjakan tugas selama pelatihan. Dengan jumlah peserta tersebut, proses pendampingan dan diskusi dapat berlangsung secara efektif dan mendalam. Rangkaian acara resmi diakhiri dengan evaluasi akhir kegiatan, penyusunan rencana tindak lanjut individual untuk lembaga masing-masing, serta penyerahan sertifikat.
Bagi peserta, rangkaian pelatihan ini tidak berhenti pada pemahaman konsep. Rencana tindak lanjut yang disusun menjadi langkah awal untuk membawa praktik MEL ke dalam kerja organisasi masing-masing. Dengan demikian, proses pemantauan, evaluasi, dan pembelajaran diharapkan tidak berhenti sebagai kewajiban pelaporan, tetapi menjadi bagian dari cara organisasi memahami perubahan dan memperbaiki kerja-kerjanya.
Penulis dan Foto: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo | Editor: Agustine Dwi
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.