Satunama.org — Upaya mewujudkan rantai pasok pertanian berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan produktivitas dan lingkungan, tetapi juga perlu mengedepankan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Peluncuran Panduan Implementasi Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Proyek Sustainable Agriculture for Forest Ecosystems (SAFE) yang diselenggarakan pada 12 Agustus 2026 di Hotel Pullman Jakarta. Kegiatan berlangsung secara luring dan daring, diikuti 79 peserta perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra pembangunan, dan sektor swasta. Proyek SAFE sendiri diimplementasikan oleh GIZ bersama Kementerian PPN/Bappenas dan berkomitmen mengintegrasikan prinsip GEDSI sejak tahap perencanaan, implementasi, hingga monitoring.

Dalam sambutannya, Cecilia Novarina dari GIZ menegaskan bahwa GEDSI bukan sekadar ‘tempelan’, tetapi perlu menjadi bagian dari keseluruhan proses proyek dengan mempertimbangkan konteks setiap wilayah. Sementara itu, Wulan Metafurry dari Kementerian PPN/Bappenas menyampaikan bahwa GEDSI telah menjadi bagian dari RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2025–2029 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, termasuk dalam sektor pertanian untuk mendorong produktivitas, efisiensi rantai pasok, nilai tambah, serta ketahanan terhadap perubahan iklim.
Panduan yang Mengubah GEDSI dari Konsep Menjadi Praktik
SATUNAMA menyusun Panduan Implementasi GEDSI melalui kerja sama dengan GIZ dalam Proyek SAFE. Ima Susilowati dari SATUNAMA memaparkan bahwa panduan ini menjadi kerangka praktis bagi perusahaan dan organisasi untuk mengintegrasikan GEDSI dalam pengembangan komoditas dan rantai pasok pertanian. Selain menyediakan langkah praktis, contoh penerapan, dan alat diagnosis mandiri, panduan tersebut menekankan bahwa ketidaksetaraan tidak hanya dipengaruhi gender, tetapi juga usia, etnis, lokasi, disabilitas, akses teknologi, dan faktor sosial lainnya. Karena itu, pendekatan twin-track diterapkan melalui intervensi afirmatif bagi kelompok yang menghadapi hambatan sekaligus integrasi GEDSI dalam seluruh kebijakan, program, dan sistem rantai pasok. Sejumlah alat analisis seperti Moser, Harvard Analytical Framework, GALS, PRA, dan Gender-sensitive Value Chain Analysis juga diperkenalkan untuk membantu organisasi memahami peran, akses aset, pengambilan keputusan, serta pembagian manfaat di setiap tahapan rantai pasok.
Panduan tersebut tidak berhenti sebagai kerangka di atas kertas. Prinsip dan alat yang diperkenalkan kemudian diterapkan dan direfleksikan melalui proses mentoring bersama tujuh mitra Proyek SAFE dalam konteks kerja masing-masing.
Data Terpilah dan Pengalaman Lapangan Menjadi Kunci

Diskusi menunjukkan bahwa penerapan GEDSI tidak cukup hanya dengan menargetkan jumlah perempuan yang terlibat. Data terpilah penting untuk mengidentifikasi kelompok yang belum terjangkau dan memahami hambatan yang mereka hadapi, sehingga dapat menjadi dasar perbaikan desain program. Pengalaman mentoring terhadap tujuh mitra Proyek SAFE menunjukkan bahwa prinsip tersebut dapat diterapkan melalui berbagai langkah sederhana yang disesuaikan dengan konteks masing-masing. Beberapa praktik baik yang muncul antara lain penyesuaian waktu kegiatan, pendekatan jemput bola, penyediaan ruang diskusi yang aman, pembentukan kelompok kecil, serta penggunaan metode partisipatif seperti GALS.
Praktik sederhana dan sesuai konteks tersebut menunjukkan bahwa langkah-langkah kecil dapat mendorong partisipasi yang lebih setara. Meski demikian, tantangan masih meliputi norma sosial, kapasitas tim, partisipasi yang masih bersifat formalitas, keterbatasan anggaran, dan pemanfaatan data terpilah. Keberhasilan GEDSI bukan hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi dari sejauh mana kelompok yang terlibat memiliki suara, akses terhadap aset, kesempatan mengambil keputusan, dan memperoleh manfaat secara adil.
Dari Panduan Menuju Gerakan Bersama
Peluncuran panduan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi pemerintah, mitra pembangunan, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk memperkuat praktik GEDSI dalam rantai pasok pertanian. Pengalaman perempuan, petani, dan masyarakat adat perlu menjadi bagian dari perencanaan dan pendampingan. Ke depan, panduan GEDSI diharapkan terus dikembangkan berdasarkan praktik di lapangan melalui asesmen, indikator perubahan, uji coba di berbagai wilayah dan komoditas, teknologi inklusif, serta kemitraan dengan berbagai kelompok masyarakat. Melalui panduan ini, Proyek SAFE mendorong transformasi rantai pasok pertanian agar tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga lebih adil dan inklusif, dengan memperkuat posisi, suara, dan manfaat bagi perempuan serta kelompok yang berisiko tertinggal.
Penulis: Mediya Juniandari | Editor: Agustine Dwi | Foto: Tim Dokumentasi Proyek SAFE
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.