Dari Aktivitas Sederhana, Lansia Lebih Berdaya: Cerita Pendampingan di Seloharjo

Satunama.org – Yayasan SATUNAMA Yogyakarta melaksanakan Program Kawasan Madya berupa Pendampingan Lansia Berbasis Masyarakat di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Program yang didukung oleh Dompet Dhuafa ini berlangsung sejak Desember 2025 hingga Mei 2026, dan hingga Maret 2026 telah menjangkau 660 lansia di beberapa dusun.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendekatan berbasis komunitas, dengan fokus pada stimulasi kognitif, dukungan kesehatan, dan penguatan interaksi sosial. Salah satu pendekatan utama yang digunakan adalah terapi kognitif, yaitu metode non-farmakologis yang membantu lansia memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, khususnya dalam mengelola gangguan tidur seperti insomnia.

Melalui pendekatan ini, lansia diajak mengenali pola pikir yang kurang adaptif serta mengembangkan cara pandang yang lebih positif dan menenangkan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas tidur dan kesejahteraan psikologis, sekaligus membekali lansia dengan strategi sederhana untuk mengelola kondisi tersebut secara mandiri.

Setiap kegiatan diawali dengan proses pendataan dan registrasi peserta yang didampingi oleh kader. Proses ini membantu memastikan data penerima manfaat tercatat dengan baik sekaligus memudahkan lansia mengikuti alur kegiatan.

Pelaksanaan kegiatan difasilitasi oleh dua fasilitator dari SATUNAMA yang memandu terapi kognitif dan sesi relaksasi, serta didukung oleh kader lansia yang berperan aktif dalam pendampingan, terutama bagi peserta yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Fasilitator sedang menyampaikan materi Terapi Kognitif bagi lansia.
Fasilitator sedang menyampaikan materi Terapi Kognitif bagi lansia.

Aktivitas terapi kognitif dilakukan melalui kegiatan sederhana seperti penyusunan puzzle yang dirancang untuk melatih daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir. Lansia menunjukkan antusiasme yang baik, meskipun pada awalnya beberapa peserta masih mengalami kebingungan dalam memahami instruksi. Melalui pendampingan bertahap dengan penjelasan sederhana dan berulang, lansia mulai lebih percaya diri dan mampu mengikuti kegiatan secara mandiri.

Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi relaksasi menggunakan teknik Butterfly Hug, yang membantu lansia mengelola kecemasan dan menciptakan rasa tenang. Seiring waktu, lansia yang awalnya canggung mulai dapat mengikuti gerakan dengan lebih rileks dan percaya diri.

Lansia sedang mempraktikkan teknik Butterfly Hug, yang membantu mengelola kecemasan dan menciptakan rasa tenang.
Lansia sedang mempraktikkan teknik Butterfly Hug, yang membantu mengelola kecemasan dan menciptakan rasa tenang.

Program ini turut terintegrasi dengan layanan kesehatan melalui kegiatan skrining oleh Puskesmas Pundong. Pemeriksaan ini bertujuan memantau kondisi kesehatan lansia serta mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut. Dari hasil skrining, ditemukan beberapa lansia yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut, termasuk dua lansia yang terindikasi mengalami depresi. Menindaklanjuti hal tersebut, fasilitator memberikan dukungan awal melalui komunikasi interpersonal dan mendorong rujukan ke tenaga kesehatan.

Sebagai bentuk dukungan tambahan, program ini juga disertai dengan distribusi bantuan sembako dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada seluruh penerima manfaat, yang dilaksanakan secara tertib dengan dukungan kader.

Setelah berjalan selama kurang lebih empat bulan, terlihat adanya peningkatan dalam koordinasi antara tim pelaksana, kader, dan pihak puskesmas. Proses pendataan menjadi lebih tertib, alur kegiatan semakin terstruktur, serta peran kader semakin optimal dalam mendukung pendampingan.

Meskipun peserta berasal dari dusun yang berbeda, program ini menunjukkan pola yang konsisten: meningkatnya keterlibatan lansia, interaksi sosial yang lebih aktif, serta terciptanya ruang kegiatan yang positif di tingkat komunitas.

Perubahan yang paling terlihat adalah pada tingkat partisipasi lansia dalam kegiatan. Dari yang awalnya pasif dan bergantung pada arahan, lansia mulai menunjukkan inisiatif, berani bertanya, serta aktif berinteraksi dengan sesama peserta. Perubahan serupa juga terlihat dalam sesi relaksasi, di mana lansia menjadi lebih tenang dan percaya diri dalam mengikuti kegiatan.

Meskipun perubahan ini terlihat sederhana, hal tersebut mencerminkan peningkatan pada aspek kognitif, emosional, dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan yang dilakukan tidak hanya berdampak pada kemampuan berpikir, tetapi juga pada kesejahteraan secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaannya, program ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti perbedaan kondisi fisik dan kemampuan lansia, keterbatasan jumlah fasilitator dibandingkan jumlah peserta, serta kebutuhan koordinasi dalam penyiapan kegiatan. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi melalui penguatan peran kader, penyesuaian metode penyampaian, serta koordinasi yang lebih baik antar pihak.

Program ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi lansia, tidak hanya dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga dari aspek psikologis dan sosial. Selain itu, temuan terkait kondisi kesehatan mental juga menegaskan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan dan holistik.

Dengan keberlanjutan program hingga Mei 2026, diharapkan upaya ini dapat terus memberikan manfaat yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran komunitas dalam mendukung kesejahteraan lansia di tingkat lokal.

Penulis: Berlian Prafitri dan Sapto Putri | Editor: Agustine Dwi | Foto: Berlian Prafitri dan Sapto Putri

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca