Pangan Lokal Solusi Perubahan Iklim

Ditengah pandemi Covid 19, PBB mengeluarkan laporan tentang kondisi pangan dunia. Dalam laporan yang diberi judul “Food Security And Nutrition : Building a Global Narrative Towards 2030“, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB ) menyerukan kepada berbagai negara dan actor lainnya termasuk masyarakat sipil untuk melakukan tindakan mendesak guna mengubah system pangan secara radikal guna memastikan ketahanan pangan dan gizi dapat terpenuhi (HLPE,  2020. Food security and nutrition: building a global narrative towards 2030.  A report by the High Level Panel of Experts on Food Security and Nutrition of the Committee on World Food Security, Rome).

Laporan tersebut didasarkan pada analisa konsep, hasil , pendorong dan arah kebijakan penting ketahanan pangan dan gizi guna memenuhi target Tujuan Pembangunaan Berkelanjutan (SDG’s) tahun 2030.   Tiga kebijakan yang direkomendasikan dalam laporan tersebut untuk mencapai system pangan yang berkelanjutan adalah :  (1)  mendukung transformasi radikal system pangan dari produksi ke konsumsi , termasuk pemberdayaan para pelaku system pangan yang paling rentan dan terpinggirkan, yakni petani dan masyarakat adat. (2) mempromosikan praktek produksi berkelanjutan, seperti agroteknologi. (3) mengembangan jaringan distribusi pangan.

Masalah pangan menjadi problem ekonomi dan ekologis dunia. Pangan menghabiskan sumber daya alam paling besar, sekaligus menghasilkan emisi gas rumah kaca tinggi. Produksi pangan menggunakan 34% lahan dan 69% air tawar dunia. Pangan menyebabkan terjadinya 75% deforestasi, 30% erosi tanah lapisan atas, dan berkontribusi pada setidaknya 24% dari gas emisi rumah kaca (WWF, 2020).

Pendemi Covid 19 telah menyingkap sederet problem pangan di Indonesia.  Sejumlah media local telah memberiktakan kasus kelaparan di berbagai daerah. Dalam skala global, pandemic Covid 19 telah menggangu system pangan yang bersandar pada perdagangan komoditas. Beberapa negara telah melakukan pembatasan ekspor. Sebaliknya , Indonesia yang merupakan importir komuditas pangan menghadapi ancaman.

Jelas bahwa pendemi ini memberikan pelajaran mengenai pentingnya kemandirian pangan. Laporan FAO  mengatakan bahwa pendemi Covid 19 dapat menambah 83 juta hingga 132 juta orang ke jumlah total kekurangan gizi di dunia pada tahun 2020 (FAO, 2020). Laporan Program Pangan Dunia PBB (WFP) pada April 2020  menyatakan setidaknya 265 juta orang beresiko kelaparan akibat Pendemi , hampir dua kali lipat dari sebelum pendemi.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan pangan local. Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman. Tetapi berbagai jenih pangan, khususnya karbohidrat telah tergerus oleh nasi akibat dari kebijakan monokonsumsi.

Nasi telah mendominasi sistem pangan kita, sehingga pangan lokal mulai ditinggalkan. Di Papua, masyarakat lokal yang selama ribuan tahun mengkonsumsi sagu, mulai meniggalkannya dan mulai beralih ke nasi. Padahal tanaman sagu merupakan tanaman yang bukan saja sebagai sumber pangan, tetapi juga memiliki fungsi ekologi, menjaga gambut terhindar dari kebakaran. Karena tanaman sagu paling cocok tumbuh di daerah rawa gambut, kawasan yang banyak terdapat di Papua.  Demikian juga pangan local lainnya seperti singkong, jagung, sorgum, sudah  ditinggalkan oleh masyarakat dan beralih ke nasi.

Pemerintah sedang membangun food estate di Kalimantan Tengah. Kebijakan ini sampai sekarang mengalami penolakan dari masyarakat adat Dayak yang pernah mengalami bencana asap pada tahun 1997 akibat pembukaan lahan gambut sejuta hektar. Sebaiknya pemerintah lebih menggalakkan konsumsi pangan local dari pada membangun food estate yang rentan terhadap kegagalan. Terlebih kebijakan import pangan seringkali sarat dengan korupsi. 

Mendorong kembali pangan local  sebagai membangun system pangan yang inklusif bagi semua manusia sangat penting. Pangan tidak lagi dimaknai sebagai status sosial , bahwa makan beras atau gandum lebih terhormat dibandingkan sagu, tetapi pangan adalah adalah apa yang selama ini dimiliki oleh masyarakat adat yang memiliki kandungan kalori dan nutrisi  yang memadai.  Indonesia memiliki berbagai jenis pangan yang diproduksi dan di komsumsi oleh masyarakat tetapi selama ini termarginalkan. Melalui pengembangan pangan local, maka deversifikasi pangan dan ketangguhan pangan dapat berlangsung.

Himawan Pambudi [Sosiolog Pedesaan, Kepala Departemen Demokrasi Politik Pemerintahan dan Inklusi Sosial Yayasan SATUNAMA]

Foto/Gambar : Kompasiana

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: