Pelatihan Daring Seni Memfasilitasi bersama Yayasan Tananua, Flores

Satunama.org – Menjadi fasilitator untuk masyarakat tentu bukanlah hal yang mudah, dinamika dari setiap fasilitator selalu berbeda satu dengan yang lain. Tidak hanya itu kerap kali fasilitator dituntut untuk dapat menjadi pendamping masyarakat yang dekat namun pada saat yang bersamaan fasilitator juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan program-programnya tepat waktu. Maka dari itu Yayasan SATUNAMA Yogyakarta merasa perlu untuk mengadakan pelatihan bertajuk Seni Memfasilitasi Diri dengan Genie Fitriadi Fendy yang menjadi Fasilitator.

Pelatihan diadakan pada tanggal 20-24 Oktober 2020 secara daring, mengingat kondisi pandemi yang tidak memungkinkan diadakannya pelatihan secara daring. Pelatihan sendiri dihadiri oleh teman-teman dari Yayasan Tananua Flores yang berjumlah 10 orang. Dikarenakan panjangnya durasi pelatihan maka pelatihan dibagi 4 jam setiap harinya.

Pelatihan pun dimulai dengan perkenalan dari setiap peserta dan juga fasilitator. Selanjutnya pelatihan dimulai dengan tema untuk mengenal “diri” dari masing-masing peserta dan juga bagaimana peserta dapat mengenal “diri” dalam kelompok ataupun masyarakat. Proses ini dilakukan dengan cara memberikan cerita dan menonton film, peserta diminta untuk menganalisis dan membayangkan peran seperti apa yang akan dan sudah mereka lakukan dalam masyarakat sebagai fasilitator masyarakat.

Pada hari kedua pelatihan peserta mendapatkan dua sesi dalam sehari, namun sebelum sesi peserta diminta untuk merefleksikan bagaimana mereka memaknai pelatihan hari sebelumnya. Setelah melakukan refleksi maka pelatihan hari kedua pun dimulai dengan materi seputar seni berkomunikasi, membangun suasana belajar, dan juga mengenal metode pembelajaran. Fasilitator mengajak peserta untuk memahami konsep komunikasi dan bagaimana komunikasi yang efektif dapat dilakukan.

Memasuki hari ketiga Genie selaku fasilitator berinisiatif untuk membuat sapaan “Okey Oye” guna menghindari peserta merasa bosan dan mengantuk. Selanjutnya peserta pada hari ketiga akan mendapatkan materi pemetaan sosial dan juga analisis sosial. Penyampaian materi pada hari ketiga dimulai dengan digelarnya kuis yang bersifat daring. Lalu dilanjutkan dengan diskusi kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan dari fasilitator terkait studi kasus materi analisis sosial. Pada hari ketiga ini tugas yang diberikan bersifat kelompok sehingga peserta pelatihan dibagi menjadi 2 kelompok besar. Setelah berdiskusi kelompok, maka peserta pun melakukan presentasi melalui perwakilan kelompoknya.

Pada akhirnya pelatihan pun sampai pada hari terakhir, namun sebelum memulai sesi untuk hari terakhir peserta diminta untuk melakukan review singkat berdasarkan materi hari sebelumnya. “Dalam melakukan analisis sosial kita perlu mencari akar masalah dahulu, setelah itu kita buat perencanaan kegiatan tapi kita juga perlu lihat potensi dari wilayah tersebut” ujar Emilia seorang peserta pelatihan. Pada hari terakhir pelatihan ini materi yang diberikan merupakan refleksi atas teoritis dan personal, lalu mengenai penyusunan program. Pada sesi pertama peserta diminta untuk melanjutkan analisis sosial yang sudah dilakukan pada hari sebelumnya. Seusai diskusi dan presentasi hasil analisis sosial maka peserta kembali diminta untuk melakukan refleksi secara pribadi sebagai pendamping masyarakat.

Sesampainya pada penghujung acara pelatihan ini, maka fasilitator dan para peserta pelatihan pun berpamitan satu dengan yang lain. Namun sebelum kelas pelatihan dibubarkan, fasilitator dan juga peserta melakukan foto bersama secara virtual. Kondisi pandemi seperti ini pun tidak menyurutkan semangat untuk belajar dan juga mengajar dari para fasilitator masyarakat. Diharapkan dengan diadakannya pelatihan seperti ini membantu para fasilitator dalam melakukan tugasnya sebagai pendamping masyarakat dan juga dapat memberikan pendampingan ke masyarakat yang lebih baik lagi.

Penulis : Christian Adi Nugroho (Mahasiswa Magang - UAJY), Editor: Debora Ratri.

2 pemikiran pada “Pelatihan Daring Seni Memfasilitasi bersama Yayasan Tananua, Flores”

  1. “Dalam melakukan analisis sosial kita perlu mencari akar masalah dahulu, setelah itu kita buat perencanaan kegiatan tapi kita juga perlu lihat potensi dari wilayah tersebut” ujar Emilia seorang peserta pelatihan.

    Itu contoh pertanyaan yang harus direfleksikan lebih lanjut. “Akar masalah”? Apakah itu berarti menjurus ke PROBLEM’S BASED SOLUTION? Jika benar apakah benar peserta dibawa mundur dengan bergelut masalah yang secara tehnis tak pernah masalah akan berhenti. Sebab kepekaan terhadap MASALAH akan membawa fokus kembali ke ketidak seimbangan otak kanan dan otak kiri. Biasanya setelah puluhan tahun “kekiri” sebaiknya “kekanan” supaya imbang. Ini tantangan refleksi. Maaf menggodai cara berpikir. Sejak 2005 SATUNAMA terus belajar mencari keseimbangan pengelolaan otak kita agar sehat.

    Balas
  2. “Dalam melakukan analisis sosial kita perlu mencari akar masalah dahulu, setelah itu kita buat perencanaan kegiatan tapi kita juga perlu lihat potensi dari wilayah tersebut” ujar Emilia seorang peserta pelatihan.

    Itu contoh pertanyaan yang harus direfleksikan lebih lanjut. “Akar masalah”? Apakah itu berarti menjurus ke PROBLEM’S BASED SOLUTION? Jika benar apakah benar peserta dibawa mundur dengan bergelut masalah yang secara tehnis tak pernah masalah akan berhenti. Sebab kepekaan terhadap MASALAH akan membawa fokus kembali ke ketidak seimbangan otak kanan dan otak kiri. Biasanya setelah puluhan tahun “kekiri” sebaiknya “kekanan” supaya imbang. Ini tantangan refleksi. Maaf menggodai cara berpikir. Sejak 2005 SATUNAMA terus belajar mencari keseimbangan pengelolaan otak kita agar sehat. Berulang terus selama belum nyadar.

    Balas

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: