Webinar World Mental Health Day 2020 : Greater Investment, Greater Access

Satunama.org – Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap tahunnya selalu menjadi peringatan untuk kita semua bahwa kesehatan mental tidaklah masalah yang dapat diabaikan begitu saja. Tema dari hari peringatan ini pun berganti setiap tahunnya, mulai dari pembebasan pasung bagi orang dengan gangguan jiwa, melawan diskriminasi, hingga promosi kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri.

Dan pada tahun 2020 ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tujuan kampanye Hari Kesehatan Mental kali ini adalah meningkatkan investasi dalam kesehatan mental. Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) pun menyerukan hal serupa dengan membuat tema Hari Kesehatan Mental 2020 yakni “Kesehatan Mental untk Semua: Investasi Lebih Besar-Akses Lebih Besar”.

Guna menjawab tantangan terkait tema kesehatan mental pada tahun ini maka SATUNAMA menggagas webinar yang bertujuan untuk berdisuksi tentang kesehatan mental secara daring bersama beberapa lembaga terkait. Webinar-pun digelar pada tanggal 16 Oktober 2020 bertajuk “World Mental Health Day 2020: Greater Investment, Greater Access” yang juga disiarkan secara langsung di YouTube SATUNAMA.

Webinar dibuka dengan sambutan oleh Methodius Kusumahadi (Ketua Pembina SATUNAMA), beliau menjelaskan bagaimana sejarah dan bagaimana SATUNAMA pada akhirnya ikut berperan dalam penanganan masalah ini satu tahun belakangan. Setelah sambutan, moderator webinar Karel Tuhehay memberikan kesempatan pada dr. Venny Pungus, Sp. KJ. dari RS Bethesda untuk memaparkan materi perihal kesehata jiwa dari sudut pandang medis.

Dokter Venny-pun menjelaskan bahwa kesehatam mental tidak hanya menjadi masalah bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) saja namun juga bagi semua orang. Selanjutnya dr. Venny menceritakan bagaimana penyebab gangguan jiwa antara lain faktor psikologis, faktor biologis, dan juga faktor sosial. “Peran keluarga dan lingkungan sosial menjadi penting dikarenakan hubungan keduanya akan saling mempengaruhi, sehingga membutuhkan sinergi yang baik demi kebaikan pasien” ujar dokter Venny menutup pemaparan materinya.

Selanjutnya giliran perwakilan dari Kepala Departemen Mental Health dan Disabilitas SATUNAMA, Frans Tugimin juga menceritakan pengalamannya dalam mengelola Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa (RPKJ) setahun belakangan ini. Menurutnya perlu ada perubahan stigma di masyarakat terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). ODGJ yang sudah sembuh selama ini masih mendapatkan stigma yamg negatif bahkan kerap juga tidak diterima dengan baik di masyarakat ataupun keluarga ketika sudah sembuh. “Pendekatan bersifat charity saja tidak cukup, sudah saatnya pendekatan berganti menjadi human right based” tuturnya menjelaskan.

Lalu Anggit Hernowo selaku Co-founder BenihBaik.com bercerita bagaimana mereka sebagai platform kolaborasi dalam bentuk crowdfunding juga turut berperan dalam membantu dalam bidang kesehatan mental. “Karena kami yakin pengobatan kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, beberapa orang saja, namun tanggung jawab masyarakat juga” ujar Anggit. Tidak hanya membantu dalam pengumpulan bantuan dari masyarakat, BenihBaik.com juga memberikan konsultasi gratis dan melakukan sosialisasi pentingnya memperhatikan kesehatan mental.

Sebagai perwakilan dari CBM Indonesia, dr. Ashra Vina memberikan beberapa contoh konkret betapa pentingnya investasi dalam penanganan terkait kesehatan jiwa. Investasi yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk uang saja, namun investasi juga bisa dalam bentuk fasilitas, layanan, pengetahuan, akses, dan lain-lain. Menurutnya selama ini banyak dari pihak yang menangani kesehatan jiwa masih belum memperhatikan kebutuhan yang benar-benar mereka (ODGJ) perlukan, namun hanya menyediakan yang baik menurut mereka. “CSO yang berperan dalam kesehatan jiwa perlu melakukan kolaborasi antara bidang medis dengan bidang non medis sehingga orang dengan disabilitas mental bisa lebih diterima di masyarakat” tambahnya.

Narasumber terakhir dari pihak Pertamina Foundation yang diwakili oleh Unggul Putranto (Direktur Operasional Pertamina Foundation). Beliau langsung menjelaskan visi misi dan program yang sudah berlangsung, tetapi beliau juga mengakui bahwa mereka belum memiliki program untuk penanganan kesehatan mental. Namun Pertamina Foundation tidak ingin berhenti disitu, mereka juga ingin membantu menangani permasalahan kesehatan mental. Unggul juga bercerita bahwa Pertamina Foundation sendiri sudah pernah melakukan kegiatan melukis bersama antara seniman profesional dengan penyandang gangguan jiwa guna pemenuhan hak dalam hal kebebasam berekspresi. “Perlunya kerjasama antar Yayasan dalam mengembangkan gagasan dan inisiatif dalam merespon isu (kesehatan mental) ini” tutupnya.

Moderator menutup webinar dengan menuturkan beberapa kata kunci yang sudah diungkapkan oleh para narasumber yaitu tentang cara untuk menghilangkan stigma, pentingnya dukungan keluarga, perlunya kolaborasi antara private sector, CSO, praktisi kesehatan, dan pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Untuk lebih lengkapnya, webinar dapat anda saksikan lewat aplikasi

Penulis : Christian Adi Nugroho (Mahasiswa Magang UAJY)

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: