Jalinan Pengembangan Organisasi dan Fundraising

Fundraising atau Penggalangan dana adalah salah satu aspek finansial yang dapat membuat organisasi masyarakat sipil berkiprah secara berkelanjutan. Dana dari pendapatan, hibah, hadiah, dan sponsor dapat digunakan untuk memastikan keberlanjutan sebuah program atau organisasi.

Pada dasarnya, penggalangan dana adalah kampanye yang dapat mengambil beberapa bentuk, yang dirancang untuk mengumpulkan uang untuk program atau kegiatan yang dipilih. Penggalangan dana adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh suatu organisasi.

Sebagai sebuah aspek yang ikut menentukan hidup mati sebuah organisasi, pendanaan menjadi tidak bisa diabaikan. Oleh karenanya, penggalangan dana mennjadi jauh lebih luas cakupannya daripada sekadar mencari dana saja.

Pengelolaan penggalangan dana tentu tidak hanya sekadar berkutat dalam urusan bagaimana mendapatkan dana saja, namun juga bagaimana mengelolanya. Upaya dan sistem penggalangan dana yang kuat dapat memastikan ada dana yang memadai untuk mendukung semua kegiatan organisasi. Dan ini sangat terkait dengan pengembangan organisasi tersebut.

SATUNAMA dengan pengalaman penguatan CSO puluhan tahun, terutama pada tata kelola organisasi, program dan keuangan, melihat permasalahan ini menjadi penting untuk disikapi dan direspon. Untuk itu SATUNAMA bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) melakukan pelatihan pendek fundraising dalam rangka penguatan CSOdengan tema pelatihan pengembangan organisasi dan fundraising.

Pelatihan ini dihelat pada Kamis, 16 Januari 2020 di Balai Pelatihan SATUNAMA. Peserta pelatihan ini merupakan perwakilan dan utusan dari 30 CSO (Civil Society Organization) di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka adalah para eksekutif atau pelaksana dari organisasinya. Masing-masing CSO diwakili oleh 1 orang. Hadir sebagai fasilitator pelatihan adalah Frans Toegimin dari Departemen Kesehatan Jiwa dan Disabilitas SATUNAMA dan William Aipipidely, Direktur Eksekutif SATUNAMA..

Spirit Membangun Organisasi

Frans menyebutkan bahwa mendirikan sebuah organisasi itu tidak mudah, apalagi mengembangkannya. Setidaknya sebuah organisasi harus memiliki unsur semangat, sumber daya manusia dan juga materi, teknologi, metode kerja dan aturan-aturan.

“Agar semua itu bisa bersinergi dengan baik maka harus ada yang mengelola. Jadi harus ada kepemimpinan, komunikasi, spritualitas atau komitmen.” Ujar Frans Toegimin yang sudah hampir separuh abad aktif di dunia CSO.

Menurut Frans, sumber daya yang dimiliki sebuah organisasi harus dapat dikolaborasikan dengan cara kerja atau metode kerja yang sesuai agar organisasi tersebut dapat meraih tujuannya.

“Struktur organisasi, AD/ART, program kerja dan sebagainya itu harus dapat sinergis dengan sumber daya manusia serta cara atau metode kerjanya. Sehingga organisasi akan bisa bergerak menuju visinya.” Lanjut Frans.

Setiap organisasi tentu berbeda nilai-nilai juga spritualitasnya yang kemudian tercermin dalam visi, misi, nilai, motto. Kecerdasan manusia bukan satu-satunya syarat mutlak khususnya bagi organisasi nirlaba, tetapi organisasi harus berusaha supaya tidak bergantung kepada pihak atau orang lain. Aspek manusia ini yang memiliki spritualitas atau semangat.

“Misalnya ketika ada orang yang ingin melamar di organisasi nirlaba, maka yang paling utama yang harus ditekankan adalah spiritnya, karena jika tujuan bekerjanya berorientasi kepada uang, maka orang tersebut tidak cocok bekerja di organisasi nirlaba.” Tekan Frans.

Spritualitas adalah komitmen atau cita-cita atau gagasan yang sangat penting. Karena organisasi nirlaba tidak sekedar membutuhkan orang cerdas tetapi membutuhkan orang yang mau menyumbang tenaganya untuk organisasi.

Ada indikator yang nyata untuk perkembangan sebuah organisasi. Pertama, simpanan berupa dana, tapi tidak mutlak dana. Ada sumberdaya yang disisihkan untuk menjaga sebuah organisasi tidak mati. Kedua, proporsi peningkatan income lembaga dari waktu ke waktu seperti internal income, eksternal income, dan dukungan lembaga dana. Ketiga, memiliki jumlah sumber income yang cukup. Keempat, memiliki lembaga mitra atau partner pelaksana program. Kelima, memiliki staf yang kompeten.

Terkait staf, CSO harus terus belajar sehingga peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pada staf terus terjadi. Sehingga expertise dari staf bisa dijual ke lembaga lain.

“Staf setidaknya bisa dikategorisasikan menjadi empat. Pertama adalah staf self finance, ini staf yang kapasitasnya bisa menghasilkan uang untuk lembaga. Ini biasanya adalah staf yang memiliki keahlian khusus. Kedua, staf self income, ini adalah staf yang hidup bergantung kepada donor. Ini biasanya adalah staf yang bekerja untuk program atau project. Dan terakhir independent, yaitu staf yang tidak mendapat bantuan dari manapun, namun lembaga tetap harus membayarnya, misalnya HRD atau office boy dan office girl.” Terang Frans.

Hal-hal tersebut harus menjadi pertimbangan lembaga jika ingin mengembangkan diri menjadi lembaga yang lebih bermanfaat di kemudian hari. Karena aspek-aspek spirit organisasi hingga kapasitas staf menjadi penting jika kemudian dikaitkan dengan aspek finansial lembaga.

Fundraising Penting, Tapi….

Tidak ada jalan cepat atau jalan pintas dalam mengembangkan organisasi. Demikian juga dalam hal pengembangan aspek keuangan lembaga. Dalam pemahaman yang lebih familiar, kita mengenalnya dengan istilah fundraising atau penggalangan dana. Namun sebuah organisasi butuh memiliki beberapa syarat sebelum dapat menjalankan proses penggalangan dana.

“Legalitas sebuah organisasi menjadi syarat pertama jika organisasi tersebut ingin melakukan aktivitas penggalangan dana. Kemudian, juga harus punya sumber daya manusia yang kompeten dan cukup jumlahnya.” Ujar William Aipipidely, fasilitator yang mengawal sesi fundraising.

Selanjutnya. Willy kemudian juga memaparkan bahwa lembaga juga harus memperhatikan keberlanjutan keuangan atau financial sustainability. Setidaknya terdapat empat pilar dalam hal ini. “Pertama adalah rencana strategi/jangka panjang terpadu, kedua diversifikasi sumber dana, ketiga, administrasi dan keuangan yang sehat dan keempat memiliki sumber pendapatan sendiri  atau Income Generating Activities.” Terang Willy.

Jika keempatnya dapat dimiliki oleh sebuah organisasi, maka setidaknya organisasi tersebut akan memiliki nafas panjang untuk berkiprah, tentu jika dipadukan dengan konsep dan sistem pengembangan organisasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi tersebut.

“Perspektif utama yang harus dimiliki dalam pengelolaan dan pengembangan finansial adalah legitimasi, transparansi dan akuntabilitas. Tanpa itu semua, sebuah organisasi akan sulit mendapat kepercayaan dari publik maupun dari donor. Artinya, kegiatan fundraising pun juga tidak akan mudah dilakukan.” Tutup Willy.

Pelatihan yang dihelat oleh SATUNAMA bersama Japan International Coorporation Agency (JICA) ini memang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta pelatihan akan pentingnya pengelolaan organisasi dan aspek keuangan organisasi, khususnya melalui cara fundraising sebagai sebuah instrument untuk mencapai tujuan. [A.K.P/SATUNAMA/Foto : K. Tuhehay]

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID