Belajar Inklusivitas Difabel dalam Pembangunan

Belajar Inklusivitas Difabel dalam Pembangunan

Bekerja dalam isu difabilitas merupakan sebuah tantangan menarik. Butuh basis pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni bagi pihak-pihak yang berkecimpung di dalam isu ini. Termasuk juga para pekerja di lembaga-lembaga sosial di mana saja.

Berangkat dari kebutuhan tersebut PLAN International yang memiliki wilayah kerja di Timor Leste mengirimkan beberapa stafnya untuk mengikuti pelatihan di Yayasan SATUNAMA Yogyakarta. Kegiatan pelatihan dengan tema Difabilitas dan Pembangunan ini berlangsung selama tiga hari yaitu Selasa-Kamis, 17-19 September 2019 dan bertempat di ruangan Kelas Besar Yayasan SATUNAMA Yogyakarta.

Fasilitator pelatihan ini adalah Karel Tuhehay dari Departemen Kesehatan Jiwa (Keswa) SATUNAMA, sebuah departemen yang menangani isu-isu terkait difabilitas dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang juga menjadi salah satu ranah kerja SATUNAMA. Sementara peserta yang mengikuti pelatihan berjumlah 6 orang. Semuanya dari PLAN International Timor Leste.

Dari Perspektif Hingga Implementasi.

Fasilitator Karel Tuhehay (kiri) berdinamika bersama para peserta Pelatihan Difabilitas dan Pembangunan dalam salah satu sesi pelatihan yang diadakan di SATUNAMA Selasa-Kamis, 17-19 September 2019. Bekerja dalam ranah difabilitas, khususnya jika dikaitkan dengan peran dan partisipasi kelompok difabel dalam pembangunan, memang membutuhkan perspektif dan kemampuan yang mendalam.

Metode pelatihan yang diterapkan pun beragam. Selain pemaparan materi, perserta diajak untuk terlibat aktif melalui role play yang diberikan oleh fasilitator. “Kita pakai beberapa metode dalam pelatihan ini. Ada role play, pendalaman materi, diskusi, studi kasus, dan field visit”, ungkap Fasilitator Karel Tuhehay.

Metode beragam ini dimaksudkan untuk membangun atmosfir belajar yang efektif sekaligus mengatasi tantangan proses belajar yang muncul. Karena pelatihan ini memberikan berbagai materi yang sangat beragam, dari soal pengembangan perspektif hingga teknis implementasi program.

Beberapa materi penting yang dipaparkan selama pelatihan antara lain Perspektif Difabel, Paradigma dan Model Pendekatan Difabel, Community Based Rehabilitation, Cara Berinteraksi dengan Difabel, Difabel dan Regulasinya, Difabel dan Aksesibilitas, Inklusi Difabel dalam Pembangunan, dan Merancang Program Difabel.

Dengan metode partisipatif yang mendukung, Karel pun mengungkapkan bahwa perbedaan bahasa yang dialami dalam proses pelatihan bukanlah sebuah masalah. Bahkan itu menjadi pengalaman menarik. Beberapa kali, ada peserta yang memakai bahasa yang digunakan di Timor Leste saat diskusi lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh peserta yang lain.

Salah satu metode yang digunakan adalah melakukan field visit ke keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel. Para peserta pelatihan mewawancarai orang tua dan keluarga dari para difabel untuk memperoleh data terkait cara menangani difabel. Data menjadi sangat penting, karena hasil wawancara tersebut kemudian digunakan sebagai bahan latihan dalam merancang program-program yang berpihak kepada kaum difabel. Artinya, membangun program berbasiskan data menjadi salah satu dorongan yang diberikan dalam pelatihan ini.

Natalino Rodrigues, salah satu peserta pelatihan mengaku senang karena memperoleh pengetahuan baru melalui pelatihan ini. Apalagi ini adalah pelatihan kali pertamanya di SATUNAMA dengan topik pelatihan difabilitas. Ia pun menyadari bahwa selama ini di Timor Leste, isu terkait difabilitas belum terlalu diperhatikan secara serius. Padahal para difabel pun memiliki hak yang sama sebagai warga negara di mana pun mereka tinggal.

“Hal yang menarik bagi saya selama pelatihan ini salah satunaya adalah bagaimana menangani isu difabel dengan mengubah pola pikir masyarakat terlebih dahulu terhadap kaum difabel” ungkap Natalino.

Natalino menyadari bahwa perubahan perspektif terkait difabel adalah sesuatu yang penting dalam menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan dan partisipasi kaum difabel dalam pembangunan. Metode pelatihan yang menyenangkan dengan role play juga diakuinya sangat membantu dalam memahami materi-materi latihan dengan mudah.

Pelatihan ini dibuat atas inisiatif dari PLAN International yang kemudian bekerjasama dengan SATUNAMA. “Kita menawarkan beberapa topik pelatihan dan yang dipilih salah satunya topik tentang pembangunan dan difabilitas ini.” ungkap Debora Ratri dari SATUNAMA Training Center.

Harapannya, setelah mengikuti pelatihan para peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membuat program yang berkaitan dengan isu difabilitas di lembaganya.. [Berita : Oka Gualbertus/Editor : A.K. Perdana/Foto : Debora Ratri]

Leave a Comment

Translate »