SLEMAN (22/7) – Hari yang sangat berarti bagi seluruh anak di dunia. Tepat pada Rabu, 22 Juli, anak-anak di Kabupaten Sleman ikut memperingati Hari Anak yang digelar di Candi Prambanan. Anak-anak tampak antusias mengikuti acara sambil membunyikan kentongan. Mereka mengikuti kegiatan dengan tertib dan bahagia.

Kegiatan diawali dengan registrasi dari beberapa sekolah. Setelah itu, anak-anak diarahkan untuk menuju Lapangan Garuda Candi Prambanan. Kegiatan inti dimulai dengan doa, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah selesai menyanyikan lagu kebangsaan, kami dari tim Perpustakaan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta mulai menyusun alat-alat yang akan diperlukan untuk kegiatan. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sleman.
Saat sampai di pertengahan acara, kami diajak untuk ikut bermain game. Game tersebut berisi tentang pengertian pepatah dalam bahasa Jawa, penulisan aksara Jawa, dan menghafalkan struktur yang terdapat di Candi Prambanan.
Game pertama dimulai dengan mengartikan pepatah Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu pepatah yang diberikan adalah “ngunduh wohing pakarti”, yang berarti “memetik buah dari perbuatan”. Pepatah tersebut memiliki makna bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, baik pikiran, ucapan, maupun perbuatan, pasti akan berbalik kembali kepada diri sendiri. Dari permainan tersebut, saya jadi mengetahui bahwa pepatah Jawa memiliki banyak makna yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata, kata-kata yang sederhana bisa memiliki arti yang cukup dalam.
Game kedua dilanjutkan dengan aksara Jawa. Saat permainan dimulai, saya kebingungan bagaimana cara menyusun dan merangkai ukiran aksara tersebut. Saya mengamati teman sekelompok saya dengan penuh penasaran bagaimana dia merangkai kata-kata tersebut. Saya mencoba mengikuti cara yang dilakukan teman saya agar bisa menyusun aksara Jawa dengan benar.
Menurut sumber yang saya baca, aksara Jawa adalah alat komunikasi secara tertulis yang digunakan pada zaman nenek moyang kita dahulu. Aksara Jawa biasanya dikenal dengan nama Hanacaraka. Aksara ini juga banyak ditemukan pada candi atau beberapa benda prasejarah peninggalan kuno.
Bagi saya, aksara Jawa memang harus dikembangkan karena merupakan salah satu kebudayaan yang sangat bersejarah. Bagi sebagian orang, aksara Jawa mungkin hanya dianggap sebagai kumpulan tulisan atau ukiran kuno yang ditulis oleh orang-orang zaman dahulu. Pada dasarnya, aksara Jawa adalah sekumpulan tulisan yang digunakan untuk berkomunikasi jauh sebelum kita mengenal huruf alfabet. Aksara juga merupakan bagian dari budaya lama yang sangat perlu dijaga dan dikembangkan.
Mempelajari aksara bukan hanya kemampuan dalam membaca tulisan aksara, tetapi juga kemampuan dalam memahami makna yang tersimpan dalam setiap goresan atau kata yang disampaikan. Dengan kita bisa mempelajari dan memahami aksara Jawa, kita dapat terus mengembangkan serta menjaga budaya tersebut. Kita juga dapat mengajak orang lain untuk mau mempelajari budaya lama yang semakin berkembangnya zaman semakin dilupakan karena berkurangnya ajaran atau materi yang kurang menarik perhatian anak-anak zaman sekarang.
Setelah permainan aksara Jawa selesai, game ketiga dilanjutkan dengan menyusun setiap struktur Candi Prambanan. Beberapa orang dipilih untuk melihat clue yang telah disediakan. Setelah itu, mereka harus menyusun setiap kata yang telah disediakan sesuai dengan informasi yang mereka dapatkan. Game ini mengajarkan kita untuk melatih ketelitian dan mengingat sesuatu dengan baik. Dari permainan tersebut, kami juga dapat mengetahui apa saja nama dan struktur yang terdapat di Candi Prambanan.
Menurut saya, permainan seperti ini cukup menyenangkan karena kami tidak hanya bermain, tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru. Kami bisa mengetahui budaya Jawa melalui pepatah dan aksara Jawa, sekaligus mengenal lebih jauh tentang Candi Prambanan. Dari game-game tersebut, saya belajar serunya mengetahui budaya lama dan arti serta makna yang tersimpan dalam budaya tersebut. Saya juga menyadari bahwa semakin menuju zaman modern, banyak budaya atau kesenian kita yang mulai terlupakan.
Game ketiga di lanjutkan dengan menyusun setiap struktur candi prambanan , akan di pilih beberapa orang untuk melihat clue yang telah di sediakan lalu menyusun setiap kata yang telah di sediakan , game ini mengajarkan kita untuk melatih ketelitian dan memgingat sesuatu dengan baik dan kita juga dapat mengtahui apa saja nama dan struktur yang terdapat di candi prambanan

Dari game-game tersebut, saya belajar serunya mengetahui budaya lama dan arti serta makna yang tersimpan dalam budaya tersebut. Saya juga menyadari bahwa semakin menuju zaman modern, banyak budaya atau kesenian kita yang mulai terlupakan. Bagi saya, menjaga budaya bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu mau mengenal, mempelajari, dan tidak melupakan budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu.
Penulis: Gracia Dian Pitaloka
Editor: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.