Belajar Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Aktivitas: Refleksi dari Pelatihan MEAL Berorientasi GEDSI

Satunama.org – Selama ini, banyak program pembangunan dinilai berhasil karena mampu melaksanakan seluruh kegiatan sesuai rencana. Namun, tidak semua program mampu menjawab pertanyaan yang paling mendasar: apakah kegiatan tersebut benar-benar membawa perubahan bagi masyarakat? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat Pelatihan Metode dan Teknik Penerapan Monitoring, Evaluation, Learning, and Accountability (MEAL) Berorientasi Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) yang diselenggarakan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta pada 24–26 Juni 2026 di Yogyakarta. 

Selama tiga hari, peserta diajak melihat kembali bagaimana sebuah program dirancang dan dijalankan. Tidak hanya berfokus pada banyaknya kegiatan yang terlaksana, pelatihan ini mendorong peserta untuk memahami apakah setiap aktivitas benar-benar menghasilkan perubahan yang diharapkan. 

Sebelum memasuki materi utama, fasilitator terlebih dahulu memetakan pengalaman dan kebutuhan peserta. Langkah ini membantu memastikan bahwa setiap diskusi berangkat dari tantangan nyata yang mereka hadapi dalam mengelola program, bukan sekadar contoh-contoh yang bersifat teoritis. 

Dalam sesi kelas, peserta mulai memahami bagaimana setiap data yang dikumpulkan seharusnya memiliki tujuan yang jelas. Melalui diskusi tersebut, peserta belajar memahami bahwa setiap angka dalam laporan sebenarnya mewakili cerita perubahan seseorang. Karena itu, data tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai dasar untuk memahami apakah sebuah intervensi membawa dampak. 

Ibu Sofie dari CV Papua Bahari sedang menjelaskan implementasi proyek yang ditanganinya
Pak Martin dan Ibu Ika sedang mendengarkan penjelasan dari Mbak Nirma dalam diskusi kelompok hari kedua
Dua perwakilan Puskesmas Kecamatan Pundong sedang mengonfirmasi kegiatan Program Madaya yang menjadi bagian dari studi lapangan pelatihan

Seluruh proses pelatihan dirancang dengan perspektif GEDSI sebagai landasan utama dalam melihat perubahan. Peserta kemudian memahami bahwa setiap proses monitoring maupun evaluasi perlu memastikan setiap kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk merasakan manfaat program. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu organisasi menghadirkan program yang lebih inklusif dan menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh.

Setelah memahami konsep-konsep dasar, peserta tidak langsung berhenti pada diskusi di ruang kelas. Mereka kemudian bekerja dalam kelompok menggunakan studi kasus yang diambil dari berbagai program pembangunan. Mereka menganalisis rancangan Program Pengembangan Perikanan Tangkap di Timika, Program Pengembangan PAUD di Timor-Leste, dan Program Pengembangan Agroforestri Kopi di Desa Gobleg, Bali.

Dari ketiga studi kasus tersebut, peserta berlatih menyusun Theory of Change, menentukan indikator keberhasilan, memetakan pemangku kepentingan, hingga merancang strategi evaluasi. Proses ini membantu peserta memahami bahwa setiap perubahan sosial membutuhkan perencanaan yang matang serta keterlibatan berbagai pihak agar tujuan program dapat tercapai secara berkelanjutan.

Pembelajaran mencapai puncaknya ketika peserta meninggalkan ruang kelas dan mengunjungi Program Kawasan MADAYA kerjasama SATUNAMA dengan Dompet Dhuafa di Desa Seloharjo, Pundong, Bantul. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana kerangka MEAL diterapkan dalam sebuah program pendampingan lansia. Di sinilah konsep-konsep yang sebelumnya dipelajari di ruang kelas mulai diuji dalam situasi nyata. 

Di lapangan, peserta mengamati berbagai intervensi yang dilakukan, mulai dari terapi kognitif, latihan relaksasi emosi menggunakan teknik Butterfly Hug, hingga dukungan kesehatan melalui kolaborasi dengan Puskesmas dan Posyandu. Selain mengamati pelaksanaan program, peserta juga berdiskusi dengan tim pelaksana untuk mengidentifikasi tantangan sekaligus peluang pengembangan program di masa mendatang.

Dari hasil observasi tersebut, muncul berbagai pembelajaran penting. Salah satunya adalah perlunya memperkuat kapasitas kader lokal agar program tetap berjalan meski pendampingan dari SATUNAMA telah selesai. Peserta juga menilai bahwa pembagian kelompok lansia dalam jumlah yang lebih kecil akan membuat proses pendampingan menjadi lebih efektif. Di sisi lain, sinergi dengan Pemerintah Desa, Puskesmas, keluarga, serta pemanfaatan budaya lokal dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.

Kunjungan lapangan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh kualitas intervensi, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan perubahan tersebut secara mandiri. Pada akhirnya, pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan cara mengumpulkan data atau menyusun indikator. Lebih dari itu, sesi ini mengubah cara pandang peserta bahwa ukuran keberhasilan sebuah program bukanlah banyaknya aktivitas yang terlaksana, melainkan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Melalui pelatihan ini, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta berharap para peserta dapat menerapkan pendekatan MEAL berorientasi GEDSI di organisasi masing-masing. Dengan begitu, setiap program yang dijalankan tidak hanya mampu menunjukkan capaian kegiatan, tetapi juga menghadirkan perubahan yang lebih nyata, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Penulis: Kharina Ashna Athiya (Mahasiswa Magang HI UPN Veteran Yogyakarta
Editor: Agustine Dwi
Foto: Tim Dokumentasi Pelatihan


Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca