Rhizomatic Learning: Catatan Kecil dari Pelatihan Monitoring-Evaluasi

A rhizome has no beginning or end; it is always in the middle, between things, interbeing, intermezzo. The tree is filiation, but the rhizome is alliance, uniquely alliance.  The tree imposes the verb ‘to be’,  but the fabric of the rhizome is the conjunction, ‘and…and…and…’ 

Gilles Deleuze

Berangkat dari pengamatan tentang tanaman jahe yang dipanen oleh petani, Deleuze dan Guattari mengembangkan karakter tanaman itu untuk mengembangkan pemikiran post-strukturalisnya, yakni cara berpikir merimpang (rhizomatic thinking). Dalam bukunya yang berjudul A Thousand Plateaus, ia menggambarkan karakter rimpang (rhizome) sebagai prinsip kesalingterhubungan antara satu titik dan titik-titik yang lain. Prinsip rimpang adalah prinsip tentang jejaring, interkoneksi, gerak menjalar tanpa henti, dan merekah ke segala arah. Kutipan di atas menunjukkan bahwa rhizomatic merupakan sifat yang dinamis dan berkelanjutan—sebuah proses kreatif tanpa henti yang mengutamakan keterhubungan. Subjek rhizomatic bukan hanya subjek yang terus-menerus “menjadi”, tetapi juga subjek yang senantiasa terhubung.

Cover buku ‘A Thousand Plateaus’ dan Ilustrasi Interpretasi Bab 1-3 (Gambar kiri: University of Minessota; Gambar kanan: Happy Sleepy)

Melalui eksplorasinya, Deleuze dan Guattari hendak menyatakan satu prinsip mendasar dalam kehidupan individu maupun sosial yang disebut hasrat, yakni energi kreatif yang terus-menerus menjalar, bergerak, terhubung, dan terbebas. Dalam konteks pembelajaran, cara berpikir ini melahirkan apa yang disebut sebagai rhizomatic learning. Proses belajar dipahami bukan sebagai sesuatu yang selesai dalam satu tahap, melainkan perjalanan berkelanjutan yang terus bergerak menuju penemuan, kebaruan, dan relasi baru. Belajar tidak lagi diposisikan sebagai transfer pengetahuan satu arah, tetapi sebagai ruang eksplorasi bersama yang terbuka.

Dalam praktiknya, pendekatan ini terasa relevan dalam Pelatihan Monitoring–Evaluation–Learning–Accountability (MELA) yang diselenggarakan oleh SATUNAMA dari tanggal 9 sampai dengan 13 Februari 2026, dan diikuti oleh para staf MELA Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Pelatihan yang difasilitasi oleh Trias Hesti Utomo dan Bima Sakti ternyata telah melahirkan dan menghadirkan rhizomatic learning itu secara nyata. Suasana saling belajar yang bebas dan gembira tidak saja dirancang untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga membuka ruang refleksi dan pertukaran pengalaman. 

Rhizomatic Thinking and Learning dapat tercipta dalam seluruh dinamika pelatihan karena adanya satu syarat fundamental yang benar-benar terpenuhi. Syarat tersebut adalah ketika para fasilitator telah menghayati dan menghadirkan the art of facilitating secara konsisten. Dengan demikian, proses memfasilitasi bukanlah hanya sebuah teknik, melainkan sebuah laku seni. Fasilitator tidak sekadar memandu jalannya sesi, melainkan menciptakan ruang aman bagi peserta untuk berbagi, bertanya, dan belajar satu sama lain, sehingga forum menjelma sebagai sebuah peristiwa belajar (the moment of learning) yang membuat proses belajar hari demi hari terasa menjalar dan merekah ke berbagai arah, mengalirkan kekayaan wawasan dan pengetahuan yang melimpah.

Dengan kapasitasnya, fasilitator mampu menyuguhkan ruang belajar yang apresiatif (the appreciative space of learning), di mana setiap subjek yang terlibat mengalami enam jenis kebebasan sebagaimana dikemukakan oleh David Cooperrider, pencetus metode Appreciative Inquiry untuk perubahan. Enam jenis kebebasan itu adalah kebebasan untuk dikenali dalam hubungan antar pribadi, kebebasan untuk didengarkan, kebebasan untuk membangun mimpi dan gagasan di dalam komunitas, kebebasan untuk memilih cara berkontribusi, kebebasan untuk bertindak di dalam dukungan, dan kebebasan untuk bersikap positif dalam seluruh kehadiran. 

Luwyse, salah satu peserta pelatihan, tengah mempresentasikan hasil diskusi pada kegiatan pelatihan (Foto: Alfy)

“Kami menilai bahwa kelas yang berjalan sangat interaktif dan menarik. Kita benar-benar berbagi ilmu, bukan soal apa yang benar dan salah, melainkan apa yang sebenarnya sudah kita lakukan dalam aktivitas MELA. Selain itu, kita bisa ngobrol dan berbagi pikiran, jadi bukan mengajar satu arah. Itu yang membuat kami senang,” kata Luwyse, salah satu peserta pelatihan

Dalam ruang kebebasan yang menghadirkan continuous rhizomatic learning, setiap subjek terdorong untuk hadir secara otentik, sehingga energi kreatif di dalam dirinya menemukan jalan untuk menjalar secara merimpang (rhizomatic). Keotentikan tersebut juga melahirkan keberanian untuk mempertanyakan, menggugat, mengemukakan gagasan baru, menemukan pemahaman baru, mengenali cara berpikir baru dan berbeda, mengenali kelemahan dan kekurangan diri secara gembira dan terbuka, dan membuka kesadaran tentang banyak hal lain yang terkait dan terkoneksi, demi mendukung seluruh energi kreatif sebagai subjek pembelajar.

Meskipun menghadapi kesulitan dan tantangan, dinamika forum tidak membeku dan menyusut, mengantuk, atau kehilangan konsentrasi, melainkan tetap menjalar perlahan karena mengunyah persoalan yang dihadapi secara lebih serius, sampai akhirnya menemukan titik terang yang melegakan. Melalui the art of facilitating itu, fasilitator dapat menghadirkan seluruh kompetensi, wawasan, dan pengalamannya yang luas terkait pemikiran strategis, logika dasar tangga perubahan atau logical framework, isu-isu program yang beragam dan kontekstual serta prinsip-prinsip dasar dalam melakukan evaluasi, monitoring, learning serta penulisan impact story secara menarik dan mengalir. 

Seluruh perjalanan forum terasa sebagai peristiwa belajar (moment of learning) yang menyisakan hasrat untuk kembali belajar dan menciptakan peristiwa belajar yang baru dan berbeda (multiplicity). Ia melahirkan kerinduan untuk berjumpa lagi dan belajar lagi. 

“Kayaknya belajar selama lima hari ini tidak cukup deh. Kita masih perlu untuk bersama-sama lagi dan belajar lagi,” begitu kata Hanita, salah satu peserta. Semua peserta yang lain menyetujui hal itu sambil tertawa gembira dan penuh harapan. 

Praktik Pelatihan : Para peserta menjadi observer pada acara Sosialisasi Program Sanitasi di Desa Dampingan GNI, Jatimulyo Kulon Progo (Foto: Alfy)

Seluruh dinamika forum ini menunjukkan satu pembelajaran penting bahwa rhizomatic learning, dapat terwujud dalam seluruh proses ketika fasilitator benar-benar memiliki kompetensi dan wawasan, serta pengalaman untuk menghadirkan the art of facilitating, yakni a radical energy to place each participant and their main commitments at the center, and as a facilitator, he/she is allowing him/herself on the periphery. Fasilitator telah mengosongkan dirinya sendiri (kenosis) dan menyediakan ruang yang luas bagi para peserta untuk secara bebas, otentik dan berkualitas menjadi dirinya sendiri yang hadir sebagai subjek pembelajar.***

(Penulis: Indro Suprobo / Editor: Agustine Dwi / Foto: Alfy)

Tinggalkan komentar