Gelar Webinar, SATUNAMA Angkat Tema Anak Bercocok Tanam di Tengah Pandemi

Satunama.org – 23 Juli merupakan Hari Anak Nasional di Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2021 juga tidak lepas dari momentum Hari Anak Nasional. Peringatan tahun ini bertemakan “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Sementara  subtema yang diangkat adalah “Anak Peduli di Masa Pandemi”.

Momentum tahunan 2021 ini masih dilaksanakan dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu di mana lingkungan global saat ini berhadapan dengan sebuah tantangan besar yang sangat mungkin akan mengubah berbagai pola kehidupan, yaitu keberadaan virus Sars-COV-2 yang mengakibatkan penyakit COVID-19. Virus bermahkota ini telah mengubah banyak perspektif dan perilaku manusia tentang hidup dan kehidupan sejak kemunculannya pertama kali di Tiongkok pada akhir 2019.

Dalam kondisi seperti itu, penting kiranya dilakukan inisiasi-inisiasi atau upaya-upaya yang dapat melindungi serta mengangkat kehidupan anak-anak ke level berikutnya dengan berbagai cara yang sama efektifnya dengan sebelum kemunculan virus yang kini telah bermutasi menjadi beberapa varian tersebut.

Karenanya, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta kemudian mengadakan Webinar bertajuk “Anak Bercocok Tanam, Membangun Harmoni di Tengah Pandemi” pada Selasa, 27 Juli 2021 pada pukul 15.00-17.00 WIB. Webinar dihadiri sekitar 70 orang peserta yang sebagian besar adalah anak-anak rentang usia 6-17 tahun.

Merespon dengan Harmoni.

Sejak tahun lalu pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan PSBB hingga PPKM -dengan berbagai macam turunan dan variannya- di mana kegiatan pembelajaran tatap muka belum dapat dilaksanakan sehingga anak-anak masih melanjutkan untuk belajar di rumah.

Kerinduan untuk belajar di sekolah belum dapat terlaksana. Orang tua tetap harus mendampingi putra-putrinya sambil bekerja. Kondisi demikian membutuhkan banyak alternatif kegiatan positif bagi anak-anak yang multi dampak. Salah satu yang ditawarkan oleh SATUNAMA untuk anak-anak Indonesia adalah bercocok tanam.

“Bercocok tanam merupakan kegiatan yang menyenangkan, dapat dilakukan di luar ruangan sambil berjemur untuk meningkatkan imunitas serta menjadi healing.” Demikian dikatakan oleh Dimas Ariyanto, pekarya Unit Anak dan Pendidikan SATUNAMA yang bertindak sebagai moderator webinar.


Menurutnya, dengan bercocok tanam anak-anak dapat belajar proses pertumbuhan yang memberi harapan dan pengharapan menambahkan energi positif bagi setiap orang. “Kita berangkat dari pengalaman para petani di Jawa khususnya, yang memiliki pengalaman menghadapi ‘pagebluk’. Mereka merespon pagebluk atau pandemi dengan bersandar pada harmoni dengan alam semesta. Memanfaatkan segala tumbuhan di alam sebagai obat. Mereka memproduksi dan bercocok tanam tumbuh-tumbuhan untuk berjaga di kala pagebluk tiba.” Kata Dimas.

Hal ini tentu berbeda dengan respon yang saat ini dilakukan terhadap pandemi di mana semua hal menjadi otoritas institusi kesehatan atau medis.  Menurut Dimas, perbedaan cara merespon ini erat sekali dengan konteks jaman dan literasi masyarakatnya. “Dalam situasi pandemi, yang mesti dilakukan adalah beradaptasi. Demikian pula dengan anak-anak, mereka harus belajar beradaptasi.” Tambah Dimas.

Salah satu Forum Anak yang telah mengadaptasi cara menghadapi pandemi dengan bercocok tanam adalah Forum Anak Wedomartani Sleman. Mereka mengembangkan sayuran hidroponik. Bercocok tanam sayuran melalui hidroponik bagi mereka dapat mengisi waktu-waktu selama masa pembelajaran di rumah.

Mereka melihat bahwa sayuran sangat penting bagi asupan nutrisi anak-anak di saat pandemi. Sebagian hasil panen mereka dibagikan ke teman-teman di sekitar desa mereka, bahkan sampai ke luar desa mereka bersama Komunitas Sejangkauan Tangan Indonesia.

“Ada hasil panen yang memang kami jual. Tapi kegiatan ini juga ditujukan untuk membagikan sayuran kepada masyarakat secara gratis.” Ujar Imam Rochmadi, Ketua Forum Anak Wedomartani, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam webinar..

Pengalaman ini tentu menarik karena selain menjadi pengisi kegiatan anak-anak, sayuran hidroponik ini dapat dikembangkan lebih jauh lagi dengan dukungan desa ataupun pihak lain sebagai upaya ketahanan pangan di masa pandemi ini.

“Kita baru menyadari bahwa selama ini kita lebih banyak mengkonsumsi tidak memproduksi. Budaya ini ikut mencetak generasi yang pragmatis, apalagi bagi generasi Z yang lahir sebagai native digital. Ujar Dimas.

Menurutnya, ada ketersambungan yang putus atau missing link, ketika anak-anak tak bisa membaca kisah di balik hadirnya sepiring nasi di meja makan mereka. “Maka, ini adalah momentum yang baik untuk mengenalkan kultur berproses pada anak-anak.” Ujarnya lagi

Kultur bercocok tanam ini juga dapat menjadi healing untuk mengobati kejenuhan harus belajar dan berkegiatan di rumah saja. Dengan bercocok tanam bersama orang tua dan keluarga, kegiatan ini dapat menjadi sarana semakin melekatkan satu sama lain. Ikatan kedekatan anak dengan orang tua dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan menjadi modal tumbuh kembang anak secara optimal.

Cinta Pertanian Sejak Dini.

Webinar ini memang bertujuan untuk merefleksikan pandemi menggunakan cermin masyarakat agraris saat mengalami pagebluk untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi anak-anak. Mengajarkan pada anak untuk merawat alam dan mencinta sebuah proses melalui kultur cocok tanam juga diupayakan, sekaligus juga menawarkan sebuah alternatif kegiatan pada anak selama belajar di rumah.

“Yang terpenting dalam konteks keluarga adalah meningkatkan ikatan antara orang tua dan anak melalui kegiatan bercocok tanam sehingga meningkatkan pengasuhan positif di dalam keluarga sekaligus mempersiapkan generasi muda sejak anak-anak untuk bergelut di dunia pertanian.” Tambah Dimas.

Karenanya, menurut Dimas pemerintah dapat membangun kecintaan anak terhadap pertanian sejak dini. Karena bercocok tanam dapat juga menjadi hobi yang berkembang menjadi pilihan profesi anak-anak di masa depan mereka.

“Indonesia ini kan negara agraris. Kita pernah berjaya. Romantisme lampau ini juga sedang disusun dalam mozaik-mozaik program oleh pemerintah. Karenanya program-program edukatif yang diselenggarakan khusus untuk anak-anak sebagai media dan sarana pengenalan mereka terhadap dunia pertanian juga kayaknya butuh dioptimalkan.” Tutup Dimas. [Penulis ; A.K. Perdana / Penyunting : Bima Sakti / Gambar : Bima Sakti]

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: