SATUNAMA Menyelenggarakan Pelatihan Daring: Appreciative Inquiry (10-13 November 2020)

Satunama.orgAppreciative Inquiry (AI) sebagai salah satu pendekatan dalam pengelolaan organisasi dirasa perlu dipahami oleh para pengurus organisasi. AI juga bisa digunakan dalam merancang, mengembangkan, memisah, atau memperbaharui suatu organisasi.

Cara kerja AI sendiri berangkat dari penggunaan cara berpikir positif alih-alih menggunakan cara lama dengan pendekatan berbasis masalah. Maka dari itu SATUNAMA Training Center berinisiatif mengadakan Pelatihan Daring Appreciative Inquiry sebagai bentuk pengenalan metode AI bagi para pengurus organisasi bersama dengan Methodius Kusumahadi, DCM sebagai fasilitatornya.

Pelatihan digelar pada Selasa-Jumat, 10-13 November 2020 secara daring yang dihadiri oleh para peserta dari Bina Desa Jakarta dan juga Trukajaya Salatiga. Dikarenakan panjangnya durasi pelatihan maka pelatihan pun dibagi menjadi dua sesi pada setiap harinya.

Sebagai pengantar pelatihan, Pak Meth menjelaskan tentang Appreciative Inquiry itu sendiri. Setelah penjelasan tersebut para peserta pun diberikan kesempatan untuk bercerita tentang keadaan, cara kerja, dan juga metode pengelolaan organisasi dari masing-masing peserta.

Hal ini penting karena berkaitan dengan perencanaan strategis dan juga prinsip kerja metode AI yang menitikberatkan pada pengalaman dan potensi setiap orang atau organisasi sebagai data bagi pengelolaan organisasi. Pada sesi kedua peserta pun diminta untuk mengisi tabel discovery atau temuan-temuan yang muncul dalam dari para peserta.yang kemudian diulas melalui diskusi bersama.

Strength, Aspiration, Opportunities, Expectation, dan Result kemudian menjadi materi berikutnya yang patut dipahami. Materi ini dimaksudkan untuk memetakan kondisi sebuah organisasi. Lebih jauh, melalui tahapan Discovery, Dream, Design, Destiny dan Delivery, metode AI juga disandingkan dengan metode perencanaan yang kondang disebut sebagai Logical Framework Analysis (LFA).

Tujuannya agar setiap detil rencana yang dibangun memilik dasar tujuan yang masuk akal dan terukur. Peserta kemudian mencoba mengisi tabel LFA yang isinya disesuaikan dengan kondisi organisasi masing-masing.

Pendalaman setiap komponen yang dituliskan oleh para peserta kemudian menjadi bahan diskusi bersama sembari belajar mengenai workplan dan actionplan, dua alat yang kerap digunakan untuk menyusun rencana strategis, serta konsep monitoring dan evaluasi yang digunakan untuk memantau keberlanjutan sebuah perencanaan strategis dalam tahap implementasi dan dampak.

Appreciative Inquiry memang merupakan salah satu cara untuk merancang, mengembangkan dan memperbaharui sebuah organisasi. Melalui pelatihan ini, diharapkan para organisasi peserta dapat lebih strategis dalam mengembangkan organisasinya menggunakan alat ukur yang akuntabel sehingga membangu organisasi tersebut dalam melakukan kerja-kerjanya mencapai tujuan.  (Berita & Foto : Christian Adi Nugroho/Mahasiswa Internship UAJY. Editor : A.K. Perdana)

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: