Isu Global dan Lahirnya Gerakan Masyarakat Sipil di Afrika
Satunama.org – Di tengah perubahan zaman, masyarakat dihadapkan pada berbagai isu sosio-ekonomi yang saling berkaitan, seperti ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, kebutuhan air bersih, dan pekerjaan yang layak. Kondisi tersebut menciptakan tekanan sosial yang besar di tingkat lokal, sehingga mendorong lahirnya berbagai gerakan masyarakat sipil yang berupaya menanggapi persoalan-persoalan tersebut secara kolektif (Holmén, 2019). Melalui strategi advokasi, penelitian kebijakan, dan penguatan masyarakat, organisasi masyarakat berupaya menanggapi isu sosio-ekonomi dengan tujuan mendorong perubahan struktural yang lebih adil, khususnya di kawasan Afrika. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memaparkan mekanisme Transnational Advocacy Network (TAN) atau Jaringan Transnasional Advokasi yang berperan dalam merespons isu-isu sosio-ekonomi di Afrika melalui studi kasus Third World Network (TWN-Africa).
TAN sebagai Solusi Kolaboratif Lintas Negara
Seiring dengan meningkatnya dinamika global, upaya advokasi yang dilakukan oleh aktor-aktor lokal di Afrika semakin terhubung dengan jejaring internasional, dan konteks ini sangat relevan dianalisis melalui lensa TAN. Dalam konteks ini, TAN menjadi sangat relevan untuk dianalisis. Keck & Sikkink, dalam artikelnya “Transnational advocacy networks in international and regional politics,” memaparkan bahwa jejaring advokasi lintas negara kerap menemui berbagai hambatan, mulai dari kesulitan memobilisasi solidaritas anggota dan opini publik untuk mendapatkan pengaruh, hingga menghadapi kesulitan untuk menjaga legitimasi dan efektivitas advokasi di tengah kompleksitas politik dan budaya lintas negara (Keck & Sikkink, 1998/2019). Dalam konteks ini, TAN tetap muncul sebagai bentuk kolaborasi strategis lintas negara yang memungkinkan organisasi nirlaba memperluas jangkauan advokasi, mengonsolidasikan sumber daya, serta membangun solidaritas global dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Konsep TAN hadir sebagai bentuk kolaborasi lintas batas yang melibatkan beragam aktor seperti organisasi non-pemerintah (NGO), individu, akademisi, serta kelompok masyarakat sipil yang bergerak pada isu-isu tertentu. Keck dan Sikkink (1999) menyebut ini sebagai Boomerang Pattern yang juga dikenal dengan Boomerang Effect. Jejaring ini terikat oleh nilai-nilai bersama, serta didukung oleh pertukaran informasi dan komunikasi yang intens. Melalui TAN, persoalan-persoalan lokal dapat diangkat menjadi perhatian internasional melalui pertukaran informasi dan strategi advokasi yang bertujuan untuk menekan aktor-aktor yang lebih kuat agar terjadi perubahan kebijakan. Model jejaring ini terbukti efektif dalam berbagai isu, mulai dari kampanye anti-pertambangan, perlindungan hak perempuan, hingga perubahan kebijakan lingkungan. Dengan demikian, TAN berperan penting sebagai sarana bagi organisasi nirlaba untuk memperluas jangkauan advokasi, meningkatkan kapasitas kolektif, sekaligus memperkuat pengaruh mereka dalam sistem politik global.
Hambatan NGO dan Keterbatasan Advokasi Nasional
Implementasi dinamika TAN terlihat dalam peran TWN-Africa. Didirikan pada 1994 dan berbasis di Ghana, TWN-Africa merupakan organisasi advokasi pan-Afrika yang memperjuangkan keadilan ekonomi dan sosial melalui visi Afrika yang terintegrasi, berdaulat atas sumber daya, serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. TWN-Africa menilai bahwa aspirasi rakyat Afrika kerap terhambat oleh dominasi korporasi transnasional, pemerintah negara kuat, dan elit Afrika sendiri (TWN Africa, n.d.).
Merespons situasi tersebut, TWN-Africa memfasilitasi pengorganisasian kelompok-kelompok terpinggirkan agar dapat berpartisipasi lebih besar dalam proses perumusan kebijakan. Berbasis pada riset yang mendalam, TWN-Africa menjalankan advokasi perubahan kebijakan strategis di bidang keadilan gender, keuangan, mineral, dan perdagangan, sembari membangun solidaritas dengan organisasi masyarakat sipil serta jaringan internasional (TWN Africa, n.d.). Melalui praktik information politics, symbolic politics, leverage politics, dan accountability politics, TWN-Africa memperlihatkan bagaimana mekanisme TAN bekerja untuk memperkuat advokasi lintas negara serta menantang struktur ketidakadilan global.
Peran TAN sebagai bukti nyata
Praktik Transnational Advocacy Network (TAN) telah berjalan lebih dari dua dekade melalui keterlibatan koalisi berbagai NGO dalam TWN-Africa. Hal ini disampaikan oleh Peace Japah Nyande di sela-sela keikutsertaannya dalam Pelatihan Local Fundraising (LFR) bagi Mitra Program Fair for All Oxfam Novib yang diselenggarakan SATUNAMA pada 10–14 November 2025. Ia memaparkan bahwa TWN-Africa bekerja bersama jaringan mitra seperti National Coalition on Mining (NCOM), Ghana Network on Environmental, Society and Corporate Accountability (GANESKA), serta Network on Women’s Rights and Environmental Justice dalam memperjuangkan keadilan sosial, lingkungan, dan ekonomi di berbagai wilayah kerja. Jaringan-jaringan ini menaungi puluhan organisasi masyarakat sipil, dari tingkat komunitas hingga nasional, dengan fokus pada isu pertambangan, kesejahteraan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan perempuan.
Ia juga menambahkan perspektif mengenai Transnasional Advokasi Network mampu menghubungkan organisasi lintas isu sekaligus mendorong kesadaran publik untuk memengaruhi perubahan kebijakan. “Menurut saya, seorang individu tidak mungkin mencapai semua tujuan sendirian. Oleh karena itu, bekerja dalam jaringan memberikan nilai tambah yang cukup signifikan, mulai dari membuka perspektif baru dalam melihat berbagai tantangan, melahirkan ide-ide baru dalam menyelesaikan suatu masalah, hingga membangun dukungan kolektif yang saling menguatkan,” ujarnya.
Peace menekankan bahwa ketika seseorang bekerja sendiri, capaian yang diraih mungkin hanya sebatas tujuan personal. Namun ketika bekerja sama dalam jaringan, peluang yang terbuka menjadi jauh lebih luas, termasuk akses ke berbagai relasi dan mitra strategis yang sebelumnya sulit dijangkau. Selain itu, jaringan juga memiliki kekuatan untuk meningkatkan visibilitas organisasi di tingkat internasional melalui koneksi antar lembaga. Seluruh aspek tersebut, menurut Peace, menjadikan jaringan sebagai ruang penting untuk berkolaborasi dan mengembangkan organisasi.
Di tengah dinamika tantangan global tersebut, organisasi masyarakat sipil memainkan peran penting dalam mendorong keadilan sosial global melalui advokasi hak asasi manusia, perjuangan terhadap isu-isu sosial, dan upaya untuk menjembatani komunitas lokal dengan aktor internasional (Cheng et al., 2021).
Referensi:
Cheng, H., Wang, Y., Ma, P., & Murdie, A. (2021). Communities and Brokers: How the Transnational Advocacy Network Simultaneously Provides Social Power and Exacerbates Global Inequalities. International Studies Quarterly, 65(3), 724–738. https://doi.org/10.1093/isq/sqab037
Holmén, H. (2019). NGOs in sub-Saharan Africa. In T. Davies (Ed.), Routledge Handbook of NGOs and International Relations (1st ed., pp. 516–528). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315268927-36
Keck, M. E., & Sikkink, K. (1998). Advocacy Networks in International Politics. Cornell University Press.TWN Africa. (n.d.). What we are [About TWN Africa]. TWN Africa. https://www.twnafrica.org/who-we-are
(Penulis: Salma Semesta / Editor: Agustine Dwi / Ilustrasi: tunchsyn / Foto: Salma Semesta)