Seni Diplomasi, sampai Jajal Jadi Host

Saya Karenina Aryunda. Seorang mahasiswa semester akhir prodi S1 Ilmu Hubungan Internasional UGM. Saya ingin membagikan pengalaman menjadi maganger. Sapaan khas bagi anak magang di SATUNAMA. Saya bergabung dengan unit media selama sepuluh minggu. Sebuah unit yang pekerjaannya seputar mengelola media internal lembaga. Sebagai mahasiswa HI, saya sering dianggap belajar ilmu elitis, di mana subjek pembelajarannya sangat tinggi, seperti negara atau perang. Persepsi tersebut sebagian benar dan sebagiannya perlu dipertanyakan. Benar jika kita belajar banyak tentang negara, tetapi bukan berarti hanya berpusat pada negara. 

Spektrum belajar HI sangat luas. Mulai dari lingkungan, konflik etnik, peran NGO, hingga interaksi negara. Saya dikenalkan dengan berbagai teori untuk membantu menganalisis realitas dunia. Sayangnya, sebagai mahasiswa angkatan corona, saya tidak memiliki cukup pemahaman tentang pengaplikasian pengetahuan-pengetahuan tersebut di dunia nyata. Jadi, saya memutuskan mengambil langkah baru dengan mengikuti program magang di SATUNAMA.

Kontribusi NGO terhadap dinamika dunia internasional menjadi salah satu topik penting dalam hubungan internasional. NGO memberikan dampak besar untuk memecahkan masalah-masalah penting termasuk pelanggaran hak asasi manusia, pelestarian lingkungan, dan bantuan kemanusiaan. Peran krusial NGO adalah sebagai penghubung antara pemerintah, komunitas lokal, dan kepentingan internasional. NGO secara aktif menyuarakan isu-isu marginal dan lokal serta menuntut adanya komunikasi antara pembuat kebijakan dengan komunitas yang terdampak. 

Organisasi Masyarakat Sipil menjadi pemain penting di panggung global. Mereka memiliki kapasitas dan integritas yang berdampak kuat dalam mengakomodasi isu-isu baru dan marginal. Mulai dari pengumpulan dana, mendorong reformasi, hingga memberikan bantuan langsung. Meski demikian, ilmu tentang NGO yang diperoleh selama belajar di HI masih terbatas. Sembari mengerjakan tugas akhir, saya memutuskan untuk belajar lebih dalam mengenai NGO melalui kegiatan magang. Setelah mencari tahu, saya tertarik dengan program-program pemberdayaan masyarakat di SATUNAMA.

Merefleksikan Kuliah

Bertemu dengan peserta pelatihan dari berbagai NGO di Indonesia dan Timor Leste menjadi momen berkesan selama menjadi maganger. Pertemuan tersebut mendorong saya untuk kembali merefleksikan aktivitas perkuliahan. Selama berinteraksi dengan mereka, saya seperti melihat pengaplikasian seni diplomasi dalam lingkup lebih kecil. Saya belajar tentang dinamika NGO. Mulai dari mencari donor, mengadakan kegiatan, hingga bagaimana tantangan dan keberhasilan mereka untuk membantu komunitas/ individu penerima manfaat. Saya menemukan pentingnya skill komunikasi, lobbying, dan creative thinking untuk mencapai tujuan organisasi.

Selain itu, saya menemukan keindahan pesan yang terkandung dalam cerita-cerita yang disampaikan oleh orang-orang yang saya jumpai. Jika negara seringkali diidentifikasi sebagai aktor yang berlandaskan pada pilihan rasional dalam mencapai tujuannya, melalui interaksi dengan NGO, saya memperoleh wawasan tentang bagaimana suatu lembaga dapat mengedepankan perasaan empati dan simpati sebagai pendorong utama tindakan mereka. Fenomena ini menarik karena menggambarkan bahwa motif sosial memiliki daya tarik tersendiri. Dengan berbagai keprihatinan, para aktivis NGO membagikan pengalaman mereka dalam mengatasi berbagai tantangan di bidang pendidikan, gender dan kekerasan seksual, disabilitas, hingga isu-isu di sektor pertanian.

Sebagai organisasi yang berdedikasi pada pemberdayaan masyarakat, SATUNAMA tidak hanya menyelenggarakan beragam kegiatan pendampingan, advokasi, dan pelatihan. Yayasan yang berkantor di kampung Duwet ini memiliki keunggulan dalam membangun jaringan kolaboratif. Selama bertugas sebagai staf media, saya juga memperoleh pemahaman mendalam mengenai kultur kerja di NGO. Saya diperkenalkan dengan berbagai istilah baru seperti local fundraising, mobilization support, theory of change, serta metode monitoring, evaluation and learning (MEL). 

Salah satu topik yang masih saya ingat adalah cara memetakan target donor dalam local fundraising. Hal ini mengingatkan saya pada konsep ‘pillar of support dan spectrum of allies’ yang pernah dipelajari di ilmu Hubungan Internasional. Jika konsep tersebut bertujuan untuk menentukan lawan dan kawan dalam suatu konflik, menurut saya keduanya dapat diadopsi dalam strategi local fundraising. Tujuannya tentu untuk memetakan siapa yang akan menjadi mitra dalam menyukseskan program-program organisasi secara efektif. Nah di sinilah saya merasa ada manfaatnya jadi anak HI. 

Mengasah Skill Bermedia

Selama menjadi maganger, tugas utama saya adalah mendokumentasikan setiap kegiatan. Dengan bimbingan Andri Setya dan Oka Gualbertus sebagai mentor, saya diajarkan untuk mendokumentasikan kegiatan pelatihan secara kreatif namun informatif. Berbagai angle pengambilan foto dan video, lalu mengeditnya menjadi konten media sosial seperti story Instagram, saya pelajari secara intens. 

Dalam bidang fotografi, saya diajak menggali makna mendalam dari filosofi “biarkan foto bercerita”. Konsep ini menyoroti kemampuan foto untuk menyampaikan narasi yang khas dengan sekali melihat. Hal ini diperoleh dengan menguasai keterampilan teknis seperti sudut pengambilan gambar, pencahayaan yang cukup, hingga komposisi yang mendalam. Menariknya, sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, saya sebelumnya tidak sepenuhnya menyadari betapa krusialnya sudut pengambilan foto. Melihat kembali dokumentasi foto dalam literatur Ilmu Hubungan Internasional, saya menyadari bahwa foto dapat secara kuat menggambarkan suatu kondisi tanpa memerlukan kata-kata. Pengalaman fotografi ini memperdalam keterampilan seni visual, sekaligus menjadi skill yang esensial karena mampu memberikan dimensi baru pada cara kita berkomunikasi dan berbagi pengalaman.

Menjadi maganger juga memperkaya kemampuan saya dalam menulis artikel. Gaya penulisan berbasis isu yang dikembangkan SATUNAMA mendorong saya untuk menulis secara berbeda. Tidak hanya menyajikan news dari sebuah event tetapi menyertakan konteks dan analisis dalam sebuah tulisan. Pengalaman menulis seakan-akan mendekatkan proses belajar di kelas dan studi kasus di lapangan. Teori dan konsep yang dipelajari ketika kuliah coba saya elaborasi dengan artikel yang hendak saya tulis. Proses penulisan artikel ini tidak hanya menjadi tugas rutin, melainkan sebuah perjalanan yang saya nikmati. Jujur, saya bangga. Dari semula yang masih banyak revisinya hingga dapat revisi yang minim. Ini jadi cermin jagonya SATUNAMA membekali saya dengan keterampilan menulis yang informatif dan kreatif.

Terakhir, yang tak kalah penting, saya menggali keterampilan baru dalam dunia podcasting. Awalnya saya hanya membantu proses produksi. Tugas saya seputar menyiapkan latar, pengaturan kabel dan lampu, pemantauan kamera, hingga memastikan kualitas audio yang stabil. Pokoknya teknis banget. Tetapi dengan belajar dari Mas Oka sebagai host, saya semakin percaya diri. Beruntungnya, saya diberi kesempatan untuk menjajal jadi host di salah satu episode bersama Pak Evan dari CNE Timor Leste. Pengalaman tersebut menjadi cerita yang sangat berkesan. Perasaan grogi tapi juga gembira meluap dalam diri saya pada saat bersamaan. Kini, saya menyadari bahwa kecintaan saya pada podcasting mulai bertumbuh. Mimpi saya, akan ada kesempatan serupa di masa depan. Diaminkan ya.

Akhirnya sepuluh minggu terasa begitu singkat. Jadi maganger di SATUNAMA telah saya lewati dengan cerita-cerita seru. Saya sangat menikmati lingkungan kerja yang nyaman. Saya beruntung berjumpa dengan orang-orang ramah dan antusias berbagi ilmu. Bagi teman-teman yang mau jadi magangers, SATUNAMA sangat recommended. Ditunggu loh teman-teman. Masih dibuka kesempatannya sampai sekarang. BTW, jangan lupa nonton podcast kita di sini.

Penulis: Karenina Aryunda, Mahasiswa Hubungan Internasional UGM / Penyunting: Oka Gualbertus

Tinggalkan komentar