Resensi: Dari Sumba Hingga Parapat (Cerita Etnografi SATUNAMA)

Satunama.org – Pada awalnya tujuan penulisan buku ini adalah untuk menyusun modul tentang Etnografi. Salah satu metode pendekatan yang dipakai oleh SATUNAMA dalam melakukan fasilitasi/ pendampingan mitra dan komunitas penghayat di tiga tempat, yakni di kampung Toda Sumba Barat Daya, di Banjarpanepen, Banyumas, Jawa Tengah dan di Pesisir Danau Toba, Sumatera Utara melalui Program Peduli yang berlangsung sejak tahun 2015-2020. Namun mengingat perjalanan dan pengalaman workshop yang berbeda-beda, terasa sayang jika kisah pengalaman itu tidak diceritakan. Cerita dan kisah selama lokakarya di tiga tempat komunitas penghayat dengan segala dinamikanya menjadi hal utama yang ingin dibagikan dalam buku ini.

Dalam proses fasilitasi di lapangan, fasilitator dari SATUNAMA dibagi dalam tiga tim sesuai dengan tiga lokasi workshop. Dwi Agustine & Karel Tuhehay memfasilitasi workshop Komunitas Penghayat di Kampung Toda, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kristina Viri dan Ariwan K Perdana di Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Sedangkan Dhimas Ariyanto dan Makrus Ali memfasilitasi komunitas di sekitar Danau Toba.

Karena program yang dilakukan adalah training atau workshop, maka tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini berupa pengalaman para fasilitator lapangan yang memfasilitasi training di tiga tempat komunitas dampingan. Artikel ditulis runtut dan sistematis sehingga mudah dipahami pembaca. Tentu saja setiap tempat memberi pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda dan saling memperkaya. Untuk memperjelas proses fasilitasi di lapangan, dalam buku ini juga ditampilkan alur proses workshop dan training di lapangan.

Ada enam artikel dalam buku ini yaitu : (1) Etnografi Selayang Pandang, (2) Menguak Etnografi SATUNAMA, (3) Belajar Dari Kampung Toda, (4) Belajar Etnografi & Sejarah Keberagaman Banjarpanepen, (5) Empat Hari Belajar Etnografi di Parapat dan (6) Dari Duwet Hingga Parapat.

Keunggulan buku ini:

  • Bahasa : buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia baku dan mudah dipahami. Ditampilkannya bahasa/istilah lokal yang ditemui oleh para fasilitator workshop ketika di lapangan dapat memperkaya pengetahuan bahasa para pembacanya. Foto-foto dokumentasi lapangan memperjelas apa yang telah dilakukan.
  • Judul :“ Dari Sumba hingga Parapat “ sudah cukup memberi gambaran pembaca soal lokasi dan mampu memberi rasa penasaran untuk membaca lebih dalam lagi, ada apa dengan Sumba dan Parapat.
  • Ilustrasi gambar/grafik/lampiran2 : bagus dengan gambar yang berwarna sehingga tampak lebih hidup.
  • Lay out: cukup rapi dan runtun sehingga mudah dan nyaman untuk dibaca.
  • Ketebalan buku : terdiri dari 193 halaman. Penggunaan kertas yang berkualitas baik sehingga buku ini terasa ringan.

Kekurangan buku ini :
Adanya beberapa salah ketik huruf dan penulisan kata SATUNAMA, yang seharusnya ditulis dengan huruf kapital semua namun masih dijumpai beberapa kali penulisan SATUNAMA dengan huruf kecil. Namun demikian kesalahan ini tidak mempengaruhi isi dan makna buku ini.

Judul BukuDari Sumba Hingga Parapat
(Cerita Etnografi SATUNAMA)
PenulisTranspiosa Riomandha, dkk.
PenerbitYayasan SATUNAMA Yogyakarta
Tahun Terbit2019
Tebal Halamanviii + 214 halaman
Ukuran16 x 23,5 cm
BahasaBahasa Indonesia
KoleksiPerpustakaan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Peresensi : Tatik Sulistyaningsih (Pustakawan SATUNAMA)

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: