
“Di TK kami memfasilitasi pendidikan lingkungan hidup dengan metode pengajaran partisipatif dan kreatif, seperti dengan membuat barang, bercerita, menonton film, bermain, menyanyi. Semua kegiatan ini bertema mengajak anak untuk mencintai lingkungan hidup disekitarnya. Di Dusun Suruh, akses untuk mendapatkan pelayanan pendidikan sulit. Baik dari sarana, prasarana juga biayanya. TK PKK Hargomulyo ini merupakan sekolah TK perintis karena dusun ini belum mempunyai sekolah Taman Kanak-Kanak sendiri,” tutur Andriani koordinator Unit Mobile Library. Ia juga menambahkan jika sampai saat ini kegiatan belajar-mengajar di TK PKK masih menumpang di Balai Dusun. Pendidikan lingkungan hidup dan pertanian lestari perlu dikenalkan sejak usia dini supaya muncul generasi penyelamat lingkungan dan melestarikan pertanian ramah lingkungan . Dari 19 murid sekolah tersebut, 98% nya adalah anak petani.
Selain di TK PKK Hargomulyo, Mobile library juga mendampingi mata pelajaran muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup di SDN Gedangan II, Gedangsari, Gunung Kidul. Ada 56 anak dari kelas IV, V, VI yang mengikuti program ini. Muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup ini dirancang dengan metode yang tidak membebani dan membosankan siswa seperti melalui diskusi kelompok, permainan, kreativitas, menonton film, observasi, dan sekolah lapang.
Sebagian besar mata pencaharian warga Dusun Suruh adalah petani tetapi kaum mudanya banyak yang keluar daerah untuk mencari pekerjaan di kota. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi petani dan tidak ada anak-anak yang mempunyai cita-cita menjadi petani. Penduduk desa beranggapan mencari nafkah dari bidang pertanian tidak menjanjikan secara ekonomi.
“Pendampingan ini tujuannya mengenalkan potensi pertanian kepada generasi muda. Salah satunya dengan jalan mempraktekkan mata pelajaran muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup dengan kegiatan Sekolah Lapang Anak sebagai media untuk mempraktekkan pertanian organik. Hal ini juga sebagai sarana untuk mengkampayekan pertanian organik yang ramah lingkungan kepada anak-anak. Secara tidak langsung, kegiatan ini mengkritisi cara bertani orang tua mereka yang masih menggunakan pertanian konvensional supaya beralih kepada pertanian organik. Pola pertanian organik akan mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak lain. Mereka bisa memakai benih lokal yang diproduksi sendiri, pupuk kandang dari kotoran ternak yang ada, juga penggunaan pestisida alami,” tutur Andriani.

Karena di SDN Gedangan II tidak mempunyai lahan yang luas, pihak sekolah berinisiatif menyewa lahan kecil yang dijadikan sebagai demplot secara swadaya. Murid kelas IV, V, dan VI kemudian menanam kentang kleci dan kacang panjang secara tumpang sari. Setiap dua minggu sekali mereka diminta untuk mengamati pertumbuhan tanaman dan cara pengelolaan hama terpadu. Sekolah Lapang Anak ini pada akhirnya akan dijadikan sebagai media belajar bersama dan untuk memotivasi anak untuk mencintai lingkungan hidup dan mempraktekkan pertanian lestari sesuai dengan kondisi setempat.

Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Anak di Dusun Suruh, Gunungkidul


