Pandemi Covid-19, Perempuan dalam Keluarga dan Peluang Mengubah Ketimpangan Relasi

Pandemi Covid-19 menyebabkan berbagai perubahan baik secara temporer maupun tetap dalam berbagai sektor kehidupan manusia di dunia. Salah satunya adalah fungsi keluarga sebagai sentral kekuatan inti kehidupan, di mana perempuan memiliki peran besar di dalamnya.

Topik tersebut muncul dalam Webinar Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Lintas Iman dengan tema Ketahanan Keluarga dan Perempuan Secara Spiritual di Tengah Wabah Pandemi Covid-19 yang digelar secara daring oleh SATUNAMA pada Selasa (26/5/20) melalui Zoom dan disiarkan secara langsung di Kanal Youtube SATUNAMA.

Dua perempuan dari komunitas Katolik dan Kristen Protestan yaitu Karolina Ratna (Katolik) dan Agustina Manik (Kristen Protestan) menekankan pentingnya peran perempuan dan keluarga di masa pandemi.

“Bagi saya ini justru membuat suatu kekuatan baru, Pandemi ini seperti tombol restart bagi semua orang diseluruh dunia, kita dipolakan untuk kembali ke rumah, kembali ke keluarga diingatkan kembali bahwa kekuatan itu berasal dari rumah.” Ujar Karolina.

Dia menyebutkan bahwa dalam agama Katolik ada tokoh figur perempuan yang menjadi penguatan dalam menghadapi situasi sulit sembari berpasrah yaitu Bunda Maria. Panutan bagi umat Katolik dalam melewati masa sulit ini.

“Bunda Maria menjadi kekuatan dalam menjalani masa masa sulit ini” ujar Karolina. Menurutnya, Bunda Maria adalah sosok perempuan kuat dan tabah dalam menjalani ketabahannya tapi terus berpasrah kepada Tuhan.

“Ada satu kalimat Bunda Maria yang menjadi penyemangat umat perempuan Katolik yaitu “terjadilah padaku menurut kehendakmu” yang artinya apapun yang dikehendaki Tuhan pasti akan menyertai hidup kita.” jelas Karolina.

Maka perempuan pun memiliki peran dalam menjaga spiritual keluarga. Namun dalam hal ini perempuan tidak menjalankan fungsi tunggal. Dalam keadaan ini perempuan berperan menguatkan dalam keluarga dan perempuan sebagai sponsor kolaborasi. Semboyan yang selalu disebutkan oleh Karolina dalam kesehariannya adalah “Woman support woman, family support family”.

Selain itu Karolina menjelaskan bahwa umat Katolik juga sudah melakukan banyak kegiatan kemanusiaan selama masa pandemi. Salah satu kegiatannya yaitu menyuplai sembako dan vitamin, serta ada gerakan dari suster- suster yaitu membuat dapur umum untuk membuat nasi bungkus yang akan diberikan kepada mahasiswa yang tidak bisa pulang kampung.

Mereka juga membuat minuman sehat untuk para tenaga medis. Untuk ketahanan pangan yaitu menyupali bibit singkong dan bibit lele untuk keluarga keluarga.

Peluang Mengubah Struktur.

Sementara Agustina Manik, seorang pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sulung membuka narasinya dengan lebih kritis. Baginya, momentum pandemi adalah peluang untuk melihat ulang struktur ketimpangan relasi gender. Hal ini harus dimaknai sebagai narasi besar yang penting untuk dikonstruksikan.

“Kristen Protestan sudah puluhan tahun membahas gender, dan di Al-Kitab tidak dibedakan sama sekali. Dalam Kristen, Kasih itu tidak membedakan.” Kata Agustina.

Bahwa perempuan itu setara dalam melakukan sebuah karya. Agustina menyebutkan bahwa pandemi dan new normal adalah peluang untuk kesetaraan gender. Karena menurutnya, peran perempuan ternyata besar dalam penanganan pandemi baik di segi sosial, ekonomi.

“Pandemi ini peluang untuk merubah struktur. Sebelum pandemi perempuan mendapatkan second class, pembedaan dalam keluarga. Namun dalam pandemi ini perempuan justru menjadi pekerja di garda terdepan.” Ujar Agustina.

Perempuan punya peran di ekonomi seperti bisnis rumahan, di bidang pendidikan peran perempuan dalam mendampingi anak- anak dalam proses belajar dirumah dan spiritual mengasihi siapapun dan agama apapun.

Agustina melihat bahwa secara domestik perempuan sangat berperan aktif dan penting sekali. Hal ini harus terus dilakukan dan harus terbiasa dengan peran perempuan yang besar di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, dan spiritual.

Agustina menegaskan dalam dialognya bahwa “Di situasi pandemi ini, perempuan karyanya luar biasa. Maka setelah pandemi ini kita sudah terbiasa dengan sebuah kebiasaan baru bahwa perempuan itu berperan di segala sisi”. Katanya.

Webinar Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Lintas Iman ini punya intensi untuk saling menguatkan antar perempuan.  Ada 8 (delapan) perempuan yang tampil sebagai pembicara dengan dua penanggap. Acara ini dimoderatori Makrus Ali (Kepala Unit Kebebasan Beragama/Berkpercayaan dan Inklusi Sosial SATUNAMA) dan diikuti kurang lebih 80 orang secara daring. (Puti Ayu Anandita dan Valerianus B. Jehanu/SATUNAMA)

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: